Senja di Dijkgraaf

Seseorang melipat matanya di balkon. Dari lantai 13, ia melongok ke barat. Matahari terbenam. Kita berbagi kesunyian. Dalam senja, kata-kata kehilangan maknanya. Dan asap-asap itu mengembara. Ia menggambar siluet, kadang membentuk sajak, kadang menjadi bukan apa pun. Tak ada ganja di sini. Tak ada narkotika. Hanya tembakau.

Di lantai 16, sepasang kekasih berciuman. Lewat jendela, bibir mereka berpagut. Mari kita rayakan senja dengan ciuman. Keduanya berciuman dengan panjang. Dan mesra. Lagi-lagi, kata-kata kehilangan maknanya. Langit menjadi jingga, lalu menggelap, dan mereka tetap berciuman. Panjang dan mesra. Setelah itu, malam menjadi panjang.

Ia memanggang kue kacang. Tepungnya organik, katanya. Ia membelinya di Lazuur, atas nama kesehatan. Ketika organik menjadi fashion, kita tahu ada yang berubah. Tapi di lantai 15, kita tak membahas kapitalisme hijau, atau Marx, atau gaya hidup urban. Kita melepas dapur di belakang dan menuju ke ufuk. Pada senja, kita mengambil jeda.

Balon udara itu terbang. Mengawang di barat, menjadi siluet hitam di lautan oranye. Fotografi akan meringkusnya jadi dua dimensi. Dan kita tak peduli kamera. Di lantai 14, mereka membahas entah apa. Ik begrijp het niet. Kata-kata bertukar, tapi mata mereka. Mata mereka fokus pada satu titik, seperti kamera. Barat, adalah akhir dari semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s