Mentawai dan Ombak

Hari ini di Rotterdam, Mentawai kembali memenuhi isi kepalaku. Setelah Bulgaria dan hari-hari yang panas di Balkan, aku mencari ritme yang ditelan liburan musim panas. Lari aku ke Rotterdam, menjauhi Dijkgraaf dan Wageningen, mencari perpustakaan di Erasmus, untuk kembali larut dalam Mentawai. Dan ombaknya.

Hammons mengisi siangku dengan shamanism, concealment, secrecy, dan tetek-bengek antropologis lain tentang Mentawai, kerei, dan primitive tourism. Lalu aku mencari benang yang menyambungkan pikirannya dengan pikiranku, studinya dengan studiku, dan studiku dengan studi Jeske yang akan kutemui di Amsterdam minggu depan.

Tesis, dan penelitian pada umumnya, mungkin memang selalu seperti ini. Kita berusaha menyambungkan apa yang terputus, atau apa-apa yang sebenarnya tak  pernah nyambung sama sekali. Kita mencari benang merah dari semua ini. Saat darah kita meledak oleh kafein yang bertubi-tubi menghantam nadi. Dari pagi hingga malam.

Lalu tiba-tiba, di momen saat aku menulis omong kosong ini, seorang gadis berambut keriting memasuki perpustakaan. Dan larut aku dalam parasnya dan baju warna oranye yang melingkari tubuhnya. Aku ingin mencuri matanya dan melukis senyum di wajahnya. Saat kita berpapasan. Dan Mentawai terlupakan. Lagi dan lagi.

(Rotterdam, 18 Agustus 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s