Afterbeers

Bulgaria menjadi segara. Dan menangis aku di De Zaaier. Setelah gelas-gelas Weihenstephan, aku mengingatmu dengan melankolia. Dan tiba di Dijkgraaf dengan bayangan tentang Leiden dan Amsterdam. Dan Mentawai. Aku ingin surfing sekarang. Di lautan tropis di negeri paling menyenangkan dan menyedihkan di dunia. Indonesia.

Esok hari aku akan melaju kencang dengan Intercity. Dan meminjam buku karena sains terlalu mengecewakan di kotaku. Dan berbagi tempat dengan seorang juffrouw dari Indonesia. Kita akan berbincang tentang tesis, Belanda, dan Depok. Lalu aku akan menuju Oostzaanstraat dan berbasa-basi tentang ombak di Siberut selatan.

Tapi, aku tak peduli apa pun saat ini. Aku cuma mengingatmu yang tersenyum saat bir hanyut dalam tenggorokan dan turun ke lambung. Saat matamu bertambah sayu dan indah dan sedih, sehingga aku membacamu sebagai puisi yang elegik. Dan aku akan menciummu. Kita akan lelap dan berbagi malam yang dingin di musim panas.

Setelah ini aku akan tertidur. Aku akan jadi mimpi yang tak bisa kau jelaskan. Kau akan menjadi piringan hitam yang berputar. Nostalgik. Dan aku kan mencarimu di sudut-sudut Amsterdam. Aku ingin menemui dengan tanpa rencana, dengan takdir yang sederhana. Lalu kita akan berpegangan tangan menyeberang zebra cross di centrum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s