Ziarah

​Kita sebenernya sedang berziarah kan? Melewati kota-kota yang asing seperti masa lalu, menjadikannya kenangan, dan menggalinya beberapa tahun lagi.

Di Karlsruhe, aku mengingat musim gugur yang dingin, di tengah malam yang gigil. Menunggu bus menuju Arnhem: setelah Freiburg dan Colmar. Dan aku mengingatnya dengan detil. Potongan roti, pagar dekat halte, dan artwork di dalam hauptbahnhof.

Segalanya terasa seperti kemarin. Tapi sebenarnya tidak juga. Kita tahu ada yang melintas di tengah, di antara hari ini dan yang silam. Detik dan menit dan jam berloncatan, membentuk ribuan kejadian yang mungkin tak paralel sama sekali. Semuanya adalah fragmen.

Dan kita, juga waktu, hanyalah potongan-potongan kecil. Seperti sebuah puzzle, kita merangkai momen menjadi gambar. Tapi tak selalu berhasil. Ziarah-ziarah ini mungkin tak perlu bermakna, mungkin tak akan pernah utuh, dan mungkin dua puzzle yang tak sama. Tapi bukan berarti ia tak berarti.

Seperti halnya utopia yang tak pernah sia-sia, kita butuh berziarah. Kita perlu berkelana untuk merawat kewarasan di arus waktu yang melahap kita habis-habisan. Atau mungkin sebaliknya, untuk menjadi setara dengan jaman yang gila ini. Entahlah.

(Karlsruhe, 11 Agustus 2017
setelah kopi yang berlebihan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s