Fragmen

Sore itu, kita bercerita tentang laki-laki yang menua di pinggiran sungai. Dia berjalan dengan kaki telanjang dan terrier coklat di sampingnya. Di wajahnya, kita membaca tahun-tahun yang mengapung, yang mengambang, serta yang setengah tuntas. Di matanya, kita melihat buku yang robek dan asap pabrik di kota yang menyedihkan. Kita melafalkan namanya dengan melodi yang terlampau liris.

Api unggun menikam malam yang tak terlalu gelap di musim yang menghangat. Lalu kita berciuman. Panjang dan mesra. Kita memberi nada pada jeda, kita memberi sunyi pada bunyi. Di bibirmu, aku seperti mendapati gereja abad pertengahan di kota yang tak pernah dibaca di peta. Dan aku ingin menyanyikan himne di telingamu. Lalu kita berciuman lagi sampai air sungai memercik menghantam ilalang.

Kereta melintasi desa-desa. Hutan-hutan itu tumbuh lagi. Aku mengingat musim gugur dengan kesedihan yang menggebu-gebu. Karena itu aku menyukai matamu yang sayu, yang sedih, yang mengandung seribu satu elegi. “Aku benci pujian,” katamu. Kita bicara dengan bahasa yang sama, sayang. Kita lari ke alkohol untuk bersedih. Kebahagiaan membuat kita curiga dan kita mencium hipokrisi di dalamnya.

Dan salju jatuh. Aku ingin kembali kesini pada Januari dan berselancar di es. Lalu kita akan terduduk dan membagi nafas yang sama. Potongan-potongan musik menjadi latar. Di atas meja, Cabarnet-Sauvignon terbuka begitu saja. Wanginya tak mengaur. Tapi ia akan busuk. Kita harus segera menghabiskannya sebelum ia menjadi mengerikan. Kita tak boleh berlama-lama larut dalam nostalgi. Kita harus mabuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s