Musim Panas

Adalah hari-hari yang pengap.

Di kelas, aku membayangkan bus kota di Blok M yang mengantre untuk keluar terminal. Dan aku mengendari mio merah menuju lapak buku bekas di basement. Tersesat aku di rak-rak, di wangi kertas-kertas yang kecoklatan. Disana, di tumpukan buku-buku itu, aku mencari kau yang bersembunyi entah dimana. Saat kalimat menjadi makna.

Adalah hari-hari yang terik.

Di jalan, aku membayangkan kereta di Stasiun Manggarai yang ganas. Orang-orang dengan kemeja dan keringat menggantung di dahi. Kita berebut spasi di dalam gerbong, kita mencari waktu yang dicuri dari kita setiap pagi. Saat alarm menjadi semacam ritual yang dipaksakan. Saat bangun pagi adalah kewajiban yang melelahkan.

Adalah hari-hari yang panas.

Di sungai, aku membayangkan ibuku. Mungkin dia sedang di taman depan rumah, menyiram bunga atau memotong daun yang sudah layu. Mungkin ia sedang pergi menengok adiyuswa yang sakit. Mungkin ia sedang membaca puisi bapak atau memasak kering kesukaanku. Mungkin ia sedang mengingatku yang entah dimana.

Adalah hari-hari yang lembab.

Di kamar, aku membayangkan Uti yang sedang menyeduh kopi di pagi hari. Menakar gula dengan perasaan dan mengaduknya dengan irama yang melankolis. Lalu ia akan solat saat senja, membentangkan sajadah dan menyebut namaku disana. Waktu kecil dulu, aku suka duduk di sampingnya saat solat. Saat agama tak dicampur politik.

Advertisements

One thought on “Musim Panas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s