Vilnius

Di Vilnius, saya bertemu seorang gadis Argentina yang manis di tengah-tengah balaikota, saat matahari sedang bersahabat. Kita bertukar senyuman dan saya memberinya kuesioner. Lalu kata-kata berpindah.

“Do you like Vilnius?” tanya saya.

“Yes. I like this city, because it is chaotic.”

Kita bicara dengan bahasa yang sama, bahasa yang diucap orang-orang dari selatan ketika membaca kota-kota Eropa. Eropa barat, bagi kita, adalah semacam struktur kaku yang rapi dan terlalu mekanikal. Kita tumbuh di selatan, di Jakarta dan Buenos Aires. Maka, Amsterdam dan Milan terlampau menjemukan. Bangunan-bangunan yang serbatertata, jalanan yang supermulus, dan ritme hidup yang disebut “beradab” oleh banyak orang.

Tapi, kita tahu ada yang keliru. Kita tumbuh di selatan, di Jakarta dan Buenos Aires. Maka, kita merindu yang chaotic, yang kacau, yang ribut, yang tak karuan, yang tak tertata, yang serbaberantakan. And we put value in chaos, because we find humanity in it.

Vilnius, bagi kita, terasa lebih humane. Kota-kota di barat sana terlalu palsu. Kita butuh yang dinamis. Dinamis yang sebenarnya, bukan yang diatur-atur negara atau walikota.

Maka, kita menikmati Vilnius seperti menikmati rumah, seperti menikmati Jakarta dan Buenos Aires. Tempat kita mengeluh setiap hari: mengutuk jalanan yang macet, atau kereta yang selalu sesak, atau pengemis di mana-mana, atau pemerintah yang tak becus mengurusi warga negara.

Di Vilnius, kita merindu itu semua seraya menemukan sudut pandang yang baru. Kita melihat dunia dengan cara yang tak sama lagi. Karena kita tumbuh di selatan, belajar di Wageningen dan Milan, lalu berkelana kemana-mana. Ke Vilnius atau kota-kota lain yang tak disebut sebagai “barat”.

Suatu hari nanti, kita akan pulang. Jakarta dan Buenos Aires akan menjadi jarak yang tak terkendali. Tapi kita tetap memelihara agama yang sama, kita masih bicara dengan bahasa yang sama. Kita adalah anak-anak selatan yang memahami bahwa khaos adalah manusiawi dan Barat adalah konstruk yang membosankan. Kita ingin hidup bebas di selatan, bukan menjadi neolib di utara sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s