Bunga

Di Jakarta, bunga dibakar. Kita memang suka membakar, ya? Membakar buku, membakar gereja, membakar massa, membakar tali, membakar api, membakar kita.

Di sini, di musim semi yang gamang, bunga adalah cerita lain. Kita pergi jauh mengagumi bunga, entah di Keukenhof atau Texel atau Lisse atau entah dimana lah. Bunga jadi tanda untuk merayakan musim yang menghangat. Bahwa kita mampu melewati musim dingin yang suram itu. Kita merayakan bunga dan matahari. Tapi tanpa membakar.

Di Jakarta, kita berdebat soal bunga. Kita beradu kata, menanam bara api di kepala, dan lupa untuk apa bersuara. Kita berdebat untuk berdebat. Kita bicara tentang bunga, tapi lupa menanam bunga. Kita tak pernah tahu apa-apa soal bunga. Kita tak tahu bagaimana ia tumbuh. Kita hanya suka membakar dan berteriak soal bunga. Tak lebih.

Di sini, bukankah kita harus jadi bunga? Kita harus jadi wiji yang tumbuh di tubuh tembok-tembok beton itu. Kita percaya, suatu saat tembok itu harus hancur.

(2 Mei 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s