Porto

Porto, bagi saya, adalah seorang bapak di Do Dragao pada Jumat malam itu. Sebelum wasit meniup peluit tanda mulai laga, si bapak membuat tanda salib. Saya lihat bibirnya seperti mengucap sesuatu. Mungkin semacam doa dalam bahasa Portugis. Raut mukanya menunjukkan keseriusan dan ketulusan di saat bersamaan.

Sejak kecil, saya telah melihat banyak orang berdoa. Tapi, selamanya saya tak akan melupakan momen itu. Saya tahu persis bapak yang duduk di sebelah saya itu mengimani FC Porto dengan ketaatan yang penuh. Baginya, Porto tak lagi sekadar klub sepakbola. Saya tak mau menyebut agama. Karena saya rasa lebih dari itu.

Malam itu Porto bertemu Tondela yang duduk di peringkat paling bawah di klasemen. Empat hari setelahnya mereka akan menjamu Juventus di Liga Champions. Banyak pemain utama yang dicadangkan. Tapi stadion tetap sesak, setidaknya di bagian belakang kedua gawang. Do Dragao mungkin adalah semacam gereja.

Saya lihat orang-orang saling menyalami sebelum duduk di bangku masing-masing. Persis seperti kebiasaan yang saya pelajari sejak kecil di ibadah hari Minggu. Di sekeliling saya, kebanyakan adalah bapak-bapak paruh baya. Saya membayangkan mereka adalah pemegang tiket terusan selama berpuluh-puluh tahun.

Tapi, bapak di sebelah saya adalah yang paling saya ingat. Tentu saja karena ia dekat. Maka saya bisa mendengar helaan nafasnya saat Porto membuang peluang emas atau salah oper yang membahayakan pertahanan. Bapak itu tak pernah berteriak. Tampaknya ia bukan tipe fans yang bawel. Ia mengimani FC Porto dalam sunyi.

Melihat bapak itu membuat saya teringat cerita seorang teman asal Jerman. Dia fans Kaiserslautern. Pilihannya adalah warisan keluarga. Dia pernah cerita bahwa kakeknya pernah tiga kali terkena serangan jantung karena menonton Kaiserslautern. Salah satunya membuat sang kakek meninggal dunia. Ya, karena sepakbola.

Bapak itu mungkin saja adalah salah satu orang yang punya tendensi untuk mati karena sepakbola. Itu yang saya pikirkan saat mendengar helaan nafasnya yang berat. Saya yakin jantungnya berdegup kencang setiap menonton Porto. Saya tak tahu bapak itu punya masalah jantung atau tidak. Jika pun iya, saya yakin ia tak peduli.

Porto, bagi saya, adalah seorang bapak di Do Dragao pada Jumat malam itu. Di akhir laga, Porto menang telak empat gol tanpa balas. Bapak itu meninggalkan tribun sekitar 10 menit sebelum laga berakhir. Berkali-kali ia mengangkat telepon genggamnya. Mungkin ada hal penting yang menunggunya di luar stadion. Di luar sepakbola.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s