Solilokui Øresund

I.
Mungkin kita harus berhenti berkelana? Tourist gaze memasungku dan muntah aku menelan atraksi. Kopenhagen dan seisinya membuatku lelah. Aku dan ribuan pendatang lain bersliweran di pusat kota: mencari entah-apa, memandang entah-apa. Mungkin kita mencari makna pada patung Frederik V atau memutar memori masa kecil di depan replika HC Andersen. Atau mungkin tidak keduanya. Kita hanya berjalan mengikuti arus, melakukan apa yang diajarkan brosur panduan wisata kepada kita: “pandanglah mereka, potretlah, dan berbahagialah di negeri paling bahagia di dunia”.

II.
Liburan musim dingin berjalan seperti eksebisi. Kita melihat fotografi di smartphone dan terkesima. Di Malmö, aku masuk ke Konsthall dan menikmati Rita Ackermann. The Aesthetic of Disappearance membuatku ingin menangis. “These works are made by multiple erasures,” katanya di pengantar pameran. Di papan tulis, ia tak menggambar untuk menjadi seniman: ia menghapus, kadang dengan kasar. Mungkin saja kita perlu destruction, kita perlu erasure, kita perlu disappearance. Haruskah kita berhenti memotret dan belajar menjadi manusia saja saat Disneyland dimana-mana?

III.
Bersepeda aku ke Rosengård di terik matari musim dingin. “Jangan pergi kesana saat gelap,” pria Swedia menasihati dari balik meja. Lari aku menjauh dari pusat kota, dari titik-titik yang didandani untuk dilihat. Bayangan Ibrahimovic kecil melintas di kepala: berlarian di gang dan menyepak bola di lapangan. Setidaknya ia lebih real. Tak ada manipulasi, tak ada modifikasi. Kota jadi lebih apa adanya. Semua ini karena post-industrialisasi, bukan? Kita menutup pabrik dan mengusir warga miskin ke pinggiran, lalu mengubah layout kota dan mengundang turis berpose di depan Charles X Gustav.

IV.
Saat pagi belum tiba, kereta membawaku ke Vallensbæk. Artwork soal Jakarta mendapatiku di dalam stasiun. Video berulang tanpa henti: repetisi terjadi di sebuah rumah di Jakarta. Batas menjadi kabur di kota yang selalu tergesa. Batas menjadi kabur! Mungkin saja semua ini hanya pengulangan. Mungkin sebenarnya kita tak pernah benar-benar menikmati. Kita hanya terperangkap dalam paranoia, dalam fantasia, dalam ekstase tak berkesudahan. Mungkin kita punya terlalu banyak waktu luang dan menjadi clueless. Di luar stasiun, Volvo yang membawaku pulang ke selatan sudah menanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s