Merindu Buku

Saat ini saya sangat-sangat rindu membaca novel berbahasa Indonesia. Sangat. Dan saya teringat Anak Semua Bangsa yang ada di rak buku di Stade. Harusnya saya membawanya ke Haarweg. Sekarang, Thoreau dan Jack London tak ada artinya.

Buku Pram itu ada di rumah tante saya. Saya menemukannya saat sedang mencari-cari buku untuk dibawa ke Wageningen. Saya membukanya dan menemukan tanda tangan bapak saya. Buku itu milik bapak. Tanda tangan khasnya dan coretan tanggal buku itu dibeli ada di halaman pertama. Masih setebal dulu. Tapi saya tak membawanya. Saya hanya mengambil satu buku, Dusklands-nya Coetzee.

Lucu sekali. Beberapa tahun lalu saya sempat mencari-cari koleksi buku Pram milik bapak. Saat masih SMP dulu, saya tahu persis bapak mempunyai Tetralogi Buru. Maka, ketika bertahun-tahun setelahnya saya ingin melumat empat buku itu, saya mencari-carinya di seisi rumah. Saya tak menemukan apa-apa. Jadilah saya membaca Tetralogi Buru dengan meminjam-minjam buku teman.

Saya tak tahu salah satu dari Tetralogi Buru ternyata sampai di Jerman. Entah kemana ketiga buku lain. Juga buku-buku lain yang saya yakin tersebar di rak-rak buku dimanapun. Bapak orang yang paling ramah soal meminjamkan buku. Saat saudara atau kerabat datang ke rumah, dia tak pernah menolak jika mereka ingin meminjam buku koleksinya. Meski banyak yang akhirnya tak pernah kembali.

Dulu saya paling kesal kalau buku saya dipinjam dan tak dikembalikan. Saat meminjamkan buku saja saya sudah was-was. Seringkali saya sampai menagih-nagih agar buku saya kembali. Entahlah, sekarang saya lebih lunak. Saya pikir buku hanyalah fisik. Siapa pun takkan bisa merenggut isinya dari dalam kepala, meski fisik buku itu tak ada lagi di rak buku, entah di kamar saya disini atau di Depok.

Lagipula, meminjamkan atau memberikan buku adalah laku yang mulia. Tak seperti saat kau memberikan mereka barang-barang bermerk Eropa. Buku adalah perkara lain. Saya selalu senang saat memberi atau diberi buku untuk atau dari seseorang. Mungkin kita harus lebih sering memberi buku kepada yang lain.

….Jadi begitu. Mungkin saya harus mencari di Amazon besok, atau pergi ke toko buku secondhand di centrum dan menelusuri rak-rak tua itu. Saat ini, tak ada yang lebih menyenangkan dari membolak-balik halaman novel¬†berbahasa Indonesia. Lebih lengkap lagi di sudut teras rumah di sore yang gerimis. Syahdu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s