Gugur

Suatu nanti, mungkin saja kita akan berhenti mencari makna pada benda, pada dunia, pada kata. Kita hanya akan menelan mentah-mentah melankolia. Menyerap karbon dioksida dengan pasrah, menghirup wangi senja dengan seluruh. Kita mungkin harus belajar pada daun-daun di musim gugur.

Daun-daun yang jatuh sepanjang kota seperti menggangguku. Bagaimana caranya jadi baru tanpa perlu meranggas dulu? Bagaimana tetap memberi warna pada kota dengan jatuh dan diinjak? Bagaimana menerima nasib yang kelu tanpa banyak mengeluh? Dan, yakinkah mereka musim semi akan datang?

Di Lyon, aku melihat kota tua yang muram. Aku selalu suka apa-apa yang muram, apa-apa yang sedih. Juga perempuan yang ‘wajahnya mengandung kesedihan sebuah kota’. Mungkin karena apa-apa yang muram itu ‘tahu bahwa ada yang dicuri dari mereka’. Haruskah kita berpura-pura di malam yang menua?

Setidaknya musim gugur memberi kita sesuatu yang tak diberi negeri-negeri tropis. Kita belajar menerima musim yang berubah tanpa protes. Kita terus mengayuh sepeda di gerimis yang jatuh. Kita terus berjalan dengan tangan di saku: menolak beku tanpa harus diam di rumah, tanpa harus menyerah pada angin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s