Rumah di Bukit

Di kepalaku berdiam sebuah rumah di bukit. Tempat dimana ribut tak diberi nama dan kata menjadi cerita. Aku ingin menulis buku-buku. Menceritakan tentang hal-hal yang subtil, tentang orang-orang yang tak-dianggap-ada, tentang barang-barang yang dilupakan. Aku ingin menulis cerita tentang manusia yang ditelan masa.

Di kepalaku berdiam sebuah rumah di bukit. Tempat ku melarikan diri dari dunia dan apa-apa yang dipaksakan. Aku ingin menulis ribuan puisi. Menceritakan tentang api yang jadi abu, tentang kau yang jadi debu, dan omong kosong ibukota. Aku ingin menulis puisi tentang kita, yang berpelukan saat dunia belum jadi segila ini.

Di kepalaku berdiam sebuah rumah di bukit. Tempat burung-burung sejenak berhenti dan angin jadi lagu. Aku ingin menulis ratusan prosa. Menceritakan tentang anak Papua yang mencuri buah di dermaga Timika, tentang gereja tua di Capodistria, tentang Jakarta yang tak pernah berubah. Aku ingin menulis suara dari kota-kota.

Di kepalaku berdiam sebuah rumah di bukit. Tempat dimana politik absen dan televisi tak mendapat tempat. Aku ingin menulis apa saja. Menceritakan apa saja: nyiur yang jatuh, kapal tua di Leiden, novel-novel yang sedih, gereja bernama stadion, dan es krim yang meleleh. Aku ingin menulis kata, kalimat, dan titik, dan koma.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s