Indrani

Pada suatu Sabtu, saya pergi ke Toko Indrani. Salah satu toko bahan makanan Asia di Wageningen. Memasuki Indrani adalah semacam ziarah ke rumah.

Saya tak mengerti bagaimana harum bumbu-bumbu makanan bisa menjadi kendaraan untuk pulang ke rumah. Tapi itu yang terjadi ketika saya berjalan memasuki lorong-lorong di Indrani. Setidaknya dalam satu atau dua detik.

Cabe rawit, lengkuas, asam jawa, dan lain sebagainya seperti membopong saya kembali ke dapur di rumah yang saya tinggali selama 24 tahun. Saya seperti melihat ibu dan nenek saya sedang memasak kering tempe atau soto ayam. Saya seperti memandangi ayah saya membakar ikan dan meracik sambal super pedas.

Saya jadi teringat salah satu artikel yang saya lupa dimana. Bukan tentang wangi atau harum atau bau makanan. Tapi tentang suara. Si penulis seperti mendengar suara ayahnya yang sudah meninggal ketika mendengar teman ayahnya berbicara lewat telepon. Ingatan tentang suara ayahnya seperti berkeliling di kepala.

Mungkin hal yang sama saya alami ketika menelusuri rak-rak Indrani. Semacam perasaan tanpa nama yang aneh. Mirip juga dengan ekstase yang saya rasakan kala menerobos rak-rak buku, entah itu di perpustakaan atau toko buku. Seperti ada impuls yang terpancing dan mengundang ingatan-ingatan usang kembali ke permukaan.

Setidaknya, sekarang saya tahu harus kemana ketika mendadak kangen rumah. Serta masakan ibu dan uti.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s