Orang-orang Normal

Minggu lalu saya pergi ke Slovenia. Melihat-lihat Ljubljana yang “young and restless”, Koper yang tampak dimakan usia, dan Bled yang cantik. Serta kota-kota kecil yang sempat saya kunjungi dalam beberapa jam atau terlewat saat menumpang bus.

Saat hendak menuju Bled dari Koper, saya harus ke Ljubljana lebih dulu. Ljubljana adalah semacam pusat. Orang-orang harus ke Ljubljana dulu jika ingin ke kota lain. Tak ada opsi transportasi langsung dari Koper ke Bled. Maka, saya harus naik bus dan kereta dari Koper ke Ljubljana, sebelum menuju Bled yang terletak di kaki Alpen itu.

Sekitar jam 9 pagi saya meninggalkan hostel dan menuju stasiun kereta/bus Koper. Saya hendak membeli tiket kereta senilai nyaris 10 euro. Namun, khaos terjadi di loket. Entah ada apa, antrian mandek selama berpuluh-puluh menit. Saya dan banyak orang lain tak jadi membeli tiket di loket. Imbasnya kami harus membeli tiket di luar loket, yang artinya sedikit lebih mahal beberapa euro.

Dalam khaos itu saya bertemu dengan seorang perempuan paruh baya asli Koper. Saya tak tahu namanya, tapi dia kerja di Ljubljana dan mahir berbahasa Prancis. Awalnya saya tanya pada ibu itu perihal masalah yang terjadi di loket. Lalu, saya mengikutinya sepanjang perjalanan ke Ljubljana. Karena perjalanan tak sesimpel yang saya kira. Kami harus naik bus dulu kira-kira 30 menit ke Divaca. Baru dari kota itu, kami naik kereta ke Ljubljana. Perempuan itu menuntun saya dengan kesabaran seorang ibu.

Di dalam kereta Divaca-Ljubljana, kami duduk bersebrangan. Kami berbicara banyak hal. Dia memberi saya banyak tips tentang tempat-tempat yang mungkin ingin saya kunjungi selama di Slovenia. Dia juga membahas Italia, Venezia, dan gempa yang baru mengoyak negara tetangga Slovenia itu. Dia menyebut Italia sebagai “monumen yang hidup”. Gempa yang terjadi Italia tengah awal September disebutnya “menyedihkan”.

Lalu, dia bicara soal politik dan Uni-Eropa. Suaranya adalah suara orang-orang kebanyakan, orang-orang normal, orang-orang awam. Seperti kebanyakan orang di kategori-kategori itu, dia tampak tak suka pada politik dan politisi. Atau mungkin tak peduli. Nada bicaranya terdengar sangat akrab di telinga saya. “For normal people like me, European Union is shit. I don’t care at all,” katanya ketus.

Suaranya juga suara orang-orang yang terpinggirkan. Dia, sama seperti banyak orang di Indonesia, adalah orang yang dikecewakan reformasi. Pada tahun 1991, Slovenia merdeka dari Yugoslavia. Namun, apakah kemerdekaan itu dirasakan orang-orang sepertinya? Dia menggeleng. Dia bilang ekonomi runtuh justru ketika Slovenia merdeka. Dia menjadikan dirinya sebagai contoh. Dia kehilangan pekerjaan di salah satu perusahaan ekspor asal Prancis dan jadi pengangguran selama tiga tahun. Ya, tiga tahun.

Menurutnya, cerita Slovenia tentang negara yang hijau dan tenang hanyalah di permukaan. Di bawah permukaan, orang-orang sepertinya bergelut dengan hidup yang tak mudah. Ceritanya seperti merusak persepsi saya tentang Slovenia yang santai dan asyik. Saya jadi teringat Papua, yang sangat indah tapi menyimpan banyak persoalan di dalamnya. Dan saya yakin tak hanya Papua dan Slovenia yang seperti itu.

Setelah berbicara panjang lebar, saya dan ibu itu saling diam. Kami terbuai lamunan masing-masing. Saya menatap ke luar jendela. Melihat kota-kota kecil di salah satu negara yang jarang dibaca di Eropa, melihat ke lanskap-lanskap hijau, melihat ke wajah-wajah Slovenski di stasiun-stasiun yang terlewat. Lalu, kereta tiba di Ljubljana. Saya dan ibu itu berpisah di depan loket-loket bus di Ljubljana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s