Wamena

Ini hari kedua saya di Wageningen dan saya justru mengingat Wamena.

Saya ingat suatu pagi di hari Senin. Sekitar pukul enam pagi saya berangkat dari Wesaput menuju “terminal”. Minggu malam sebelumnya saya menginap di kos-kosan para perantau dari Nusa Tenggara Timur. Saya menumpang dan dijamu dengan sangat baik. Mereka membuat saya teringat kalimat lama yang saya suka tentang berjalan seorang diri: orang baik ada dimana-mana.

Pagi di hari Senin itu, saya juga diantar ke terminal oleh salah satu anak NTT yang tinggal di kosan itu. Kebetulan dia sopir taksi, sebutan untuk angkutan antarkota di wilayah Jayawijaya, untuk jurusan Tolikara. Dalam perjalanan ke terminal, saya takjub melihat gunung-gemunung keperakan di Wamena. Dengan awan-awan putih menggantung di atasnya dan langit yang agak mendung.

Saya seperti melihat Swiss. Padahal, saya belum pernah ke Swiss. “How is it possible to feel nostalgia for a world I never knew?” tulis Che Guevara pada suatu masa. Pengalaman itu, melihat gunung-gunung perak di Wamena, memantik pikiran saya begitu saja. Natural dan apa adanya. Wamena membuat saya sadar, bahwa suatu hari nanti di Eropa saya akan merindukan Indonesia.

Sumatra hingga Papua, dan saya tak pernah kecewa.

***

Ini hari kedua saya di Wageningen dan saya justru mengingat Wamena.

Saya berjalan-jalan sore dan bertemu anak Belanda untuk mengambil sweater. Dia tinggal di Kapelstraat. Dari Haarweg, saya berjalan kaki beberapa belas menit saja. Saya belum punya sepeda dan my feet is my only carriage (menyitir Marley). Tapi, saya selalu suka berjalan kaki di tempat yang baru. Membuat saya lebih mengenal hal-hal di dalamnya: bangunan, nama jalan, letak gereja, etc.

Sepulang dari Kapelstraat, saya jalan-jalan di sekitar centrum. Melihat bule-bule menikmati musim panas yang sebentar lagi akan usai. De Grote Kerk yang megah mendentingkan loncengnya. Ada yang bergetar di situ. Saat gereja tua dengan bata-bata berwarna merah membunyikan loncengnya. Sedang orang-orang tak bergeming. Tetap berjalan, bersepeda, atau menyesap birnya.

Dari centrum, saya membiarkan diri tersesat. Hingga saya tiba di suatu tempat yang asik di dekat kanal. Ada sebuah bangku panjang yang kosong dan saya duduk. Melihat kanal yang hijau airnya, bebek-bebek yang melintas, dan burung yang menyantap makan sore. Di sampingnya ada rumah-rumah besar bergaya lama. Saya jadi ingat buku-buku dongeng Eropa yang saya baca dulu saat masih kecil.

Dari situ, saya pulang. Melewati jalan-jalan yang tak begitu ramai. Pikiran saya kemana-mana dan saya merasa beruntung. Dari dulu saya selalu ingin tinggal di sebuah kota kecil. Tempat dimana penduduknya (tampak) sudah selesai dengan diri sendiri. Tempat dimana ambisi tak mendapat tempat dan fashion tak diberi arti. Dalam dua hari, saya tahu persis saya telah berada di tempat yang tepat.

Lalu apa hubungan itu semua dengan Wamena? Di hari terakhir saya di Wamena, sehari setelah kecopetan kamera dan handphone, saya bangun pagi dan berjalan-jalan santai. Udara dingin mencekik dan gunung-gunung perak yang sama masih membayang. Tiba-tiba saja Kerouac muncul dalam pikiran. “Avoid the world. It’s just a lot of dust and drag and means nothing in the end,” bisiknya pelan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s