Percuma

Aku ingin mabuk arts. Tapi kau memberiku antis. Kondom dan omong kosong berjejer di nyinyir para komuter. Deretan peron berlalu, keringat yang patetik, dan kehidupan rimba. Oh monyet-monyet, kenapa kau menangis?

Biarkan aku mengulum malam dan memberi makan kelinci yang mabuk melihat kita. Ah para pengamen, subaltern, subkultur, sub-sub-sub-sub. Dari jendela metromini, anyir tembakau berdansa dengan carbon dioxide.

Dan, berlarian kita ke balik kota, menengok eksotisme yang tersisa dan sampah-sampah. Muntah aku menelan nasib dan desa-desa yang tumbuh gamang. Kau campur aduk kultur dan melantur tentang tahi hanyut di kali.

Yo man. Daun-daun ganja berdiam sembunyi. Menanti kau yang payah oleh nelangsa. Hidup, apa salah kita? Menulisi dinding waktu yang fana, mengisi hari dengan makna, dan berakhir jadi keropos. Membusuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s