True Cost

True Cost hadir di saat yang tepat. Saat saya merasa sedang diperbudak habis-habisan oleh gaya hidup dan konsumerisme, film garapan Andrew Morgan itu muncul sebagai pencerah. Dalam setahun ke belakang, kritisme pudar sedikit dan ada yang terasa salah. Tapi melawan bukan hal yang selalu gampang. True Cost seperti menuang bensin dan kritisme itu menyala terang lagi. Setidaknya saya rasa seperti itu.

Pada dasarnya, True Cost bicara soal industri fashion. Morgan dan timnya seperti mengarungi proses pembuatan sebuah busana dari hulu hingga ke hilir. Ia tak mau berhenti di acara-acara fashion show. Tak mau pula stop di pabrik-pabrik garmen di Bangladesh. Ia bahkan terbang ke Texas, tempat dimana cotton ditanam. Kita semua tahu bahwa cotton adalah bahan baku baju yang kita pakai hari ini.

Dari telusur itu, True Cost ingin menyampaikan bahwa industri fashion memang sudah salah sejak dari awal. Proses penanaman cotton terbukti tidak ramah lingkungan. Hal itu bisa terjadi karena tuntutan yang serba tergesa-gesa dari kultur fast fashion. Semuanya mesti cepat dan berskala besar. Petani cotton dituntut untuk gesit, pestisida dipakai, proses tani yang tidak ramah lingkungan diterapkan. Dan korbannya adalah lingkungan serta komunitas lokal di sekitar.

Mata rantai berikutnya adalah para buruh di negara-negara dunia ketiga. Desainer, model, dan brand-brand fashion papan atas bergelimang uang. Namun di kutub yang lain, para pekerja kasar di Bangladesh, Kamboja, bahkan Indonesia hanya diupah 2-3 dolar per hari. Saya membayangkan sebuah dress bernilai jutaan rupiah dijual di mal ibukota, sedangkan penjahit yang membuatnya mungkin hanya menghasilkan satu atau dua persen saja dari harga jualnya. Oh betapa mengerikannya.

Industri fashion memang sebegitu mengerikannya. Bahkan, konon hanya kalah dari industri minyak sebagai industri paling destruktif di dunia. Dan itu semua karena sistem ekonomi yang menyembah konsumsi. Fashion menjadi tumpukan gairah memiliki, bukan kebutuhan untuk tak telanjang. Harga-harga menjadi murah, kita diperdaya untuk terus membeli, dan dihipnotis. Seolah-olah kita kaya karena bisa terus membeli, seolah-olah kita keren, seolah-olah kita bahagia karenanya.

Rasanya kita perlu menumbuhkan kritisme lagi. Kita perlu mempertanyaan baju yang kita pakai hari ini. Bahwa ada manusia dan lingkungan yang terluka karena apa yang kita kenakan. Bahwa kita bagian dari perusak itu. Namun, berhenti pada fashion saja tak cukup. True Cost menjadikan fashion hanya sebagai sampel. Semua industri lain sebenernya sama menjijikannya. Rantai produksinya bermasalah dan kita tak tahu apa-apa. Yang penting membeli, membeli, membeli.

Satu-satunya kritik saya pada True Cost adalah bagian akhirnya. Closing statement dari beberapa narasumbernya terlalu optimistik. Sangat Amerika sekali. Mereka masih percaya masa depan yang cerah akan tiba. Saya sendiri pesimis. Tapi bukan berarti pesimis lantas bisa seenaknya saja merusak dunia dengan apa yang kita beli. Saya hanya tak tahu kapan semua ini akan berakhir kalau kita masih seserakah ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s