Akung

Jauh sebelum internet meledak, imajinasi saya tentang dunia utara telah dibangun oleh Akung Cepu, ayah angkat ibu saya.

Sejak saya kecil hingga mahasiswa, setiap kali bertemu, Akung selalu menceritakan kisah yang sama saat dia dikirim negara untuk belajar di Uni Soviet. Saat itu dia ditempatkan di Baku yang sekarang adalah ibukota Azerbaijan. Ceritanya adalah narasi yang prosaik tentang seorang anak dari kota kecil di perbatasan Jateng-Jatim yang sukses menginjak sebuah negeri adidaya. Kira-kira tahun 1950-an.

Dari intensitasnya mengisahkan ulang cerita itu, saya menakar itulah titik tertinggi dalam hidupnya. Tentu selain menikahi perempuan yang dikasihi dan membesarkan anak-anak yang disayangi. Rupanya sedari dulu kita, anak-anak dunia selatan, selalu terkagum-kagum dan menatap utara sebagai simbol keberhasilan.

Hari Minggu kemarin, Akung meninggal. Saat mendengar kabar kematiannya, saya sedang membaca novel berlatar Alabama. Lantas imajinasi saya terbang ke Baku yang dingin. Lalu saya membayangkan sosok Akung dengan kacamata dan rambut putihnya. Sedang duduk di sofa sambil memangku album foto, menunjuk foto-foto dirinya di Soviet dengan mulutnya mengulang kisah yang berkali-kali saya dengar.

Lucunya, saya nyaris tak pernah bosan mendengar ceritanya. Padahal detilnya selalu sama. Termasuk saat Akung menjadi saksi mata keberhasilan timnas Indonesia menahan imbang Soviet yang kala itu masih diperkuat kiper legendarisnya, Lev Yashin. Pertandingan Kualifikasi Olimpiade 1956 itu adalah salah satu pertandingan paling dikenang dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Mungkin saya tak bosan karena cerita itu bukan basa-basi. Cerita itu terlontar tulus dan apa adanya. Bukan sekadar membunuh waktu, bukan sekadar mencairkan kesunyian. Benar-benar ada intensi untuk berkisah, bukan berbasa-basi.

Suatu hari nanti, saya ingin seperti itu. Duduk di sofa dan bercerita kepada cucu saya tentang Aceh-Papua, tentang Belanda, Italia, Afrika, dan Jamaika. Tentang negeri-negeri di utara yang jauh, tentang kehidupan yang lain. Saya mau membangun imajinasi itu. Sama seperti Akung menanam imajinasi soal Eropa di kepala saya.

Karena tanpa imajinasi, siapa sih kita?

Advertisements

2 thoughts on “Akung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s