Selesai

“Sudah harus selesai dengan diri sendiri…”

Pesan di atas dikirim seorang teman. Kami sedang membahas tentang kultur traveling di Indonesia. Kami membahas tentang betapa tidak berubahnya jaman.  Ini 2016 dan segalanya tampak sama seperti 2013. Lalu kutipan di atas muncul. Tapi lupakanlah soal kaum pejalan cum selebtwit cum travel blogger itu.

Buat saya, “selesai dengan diri sendiri” adalah sesuatu yang akrab. Dulu kala, saat masih getol-getolnya mengagumi Buddha, frasa itu muncul begitu saja. Ia datang lagi setelah lulus. Ceritanya saya merasa bingung: sudah lulus, sudah kerja, tapi ada yang kurang. Dalam usaha lepas dari kebingungan, mantra itu muncul.

Kedirian, sejatinya, adalah proses. Ia terus menjadi, membentuk, dan merevisi wujudnya. Kita dituntut untuk selalu berkembang, berubah, dan menyesuaikan. Juga untuk selalu mengisi, memperbaiki, dan meningkatkan. “Diri sendiri” sebagai proses lantas menjadi kelana tanpa ujung, tanpa penghabisan.

Hingga pada satu masa, kita tersadar bahwa semuanya tak akan cukup. Seribu tahun dan seluruh semesta tak akan cukup untuk menanam ego, merawat kedirian, dan memperbaiki diri. Kita tak bisa terus bicara tentang aku, saya, gue. Kita perlu selesai dengan diri sendiri untuk bisa benar-benar utuh.

Mungkin sudah lebih dari dua tahun saya “selesai”. Kedirian tentu senantiasa ada. Tapi seperti ada cara baru dalam memandang hidup. Ambisi, hasrat, ego, keinginan, nafsu, cita-cita tak pernah sama seperti sebelumnya. Seperti ada yang melunak, ada yang menenangkan. Rasanya seperti siap mati kapan saja.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s