Dibuang Sayang

Kehidupan modern memakan nalar dan menyisakan remah-remahnya. Industri, ekonomi, konsumerisme: semua yang memepet ke pojok dinding dan memukul tepat di muka. Kita dipaksa bekerja delapan jam sehari dan membeli leisure time di akhir pekan. Majalah, media sosial, dan televisi menanam hasrat dalam kepala.

Kita mendapati foto pantai cantik dan danau megah di media sosial. Lalu berpikir: harus kesana! Kita dipaksa menelan mimpi dan membayar untuk itu. Kita membanting tulang di pusat kota, menangisi waktu tidur yang kian tipis, dan merasa pantas mendapatkan liburan tiga hari ke titik-titik wisata.

Teknologi memudahkan kita. Aplikasi, blog, dan pesawat murah menjadikan perjalanan modern dapat diakses dalam satu sapuan jari. Kita mengklik booking, mencontek itinerary orang lain, dan terbang dengan gaya. Kita menikmati kuliner lokal, mengunjungi bibir pantai, dan mem-posting semuanya di media sosial.

Kemudian, kita kembali ke rutinitas urban dan mengutuk kehidupan sekali lagi.

Post-scriptum: Tulisan ini adalah draft awal sebuah tulisan yang akhirnya tak saya selesaikan. Tapi, entah kenapa, tak tega menghapusnya begitu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s