Oooo Mademoiselle

“Jauh-jauh puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama..”

Di kaki Pangrango, wajahmu membayang. Dua pria Surabaya berdendang. Dengan mulut berbau ciu dan nikotin. Silampukau bernyanyi dan bergitar. Kepala memutar fragmen-fragmen Prancis. Champs-Elysees dan Rene Descartes.

Dingin pegunungan dan mulut dihujam bir. “Kau penuhiku kepalaku yang kosong.” Di depan kerumunan dan bau rumput taman nasional. Terpaku oleh kata, bunyi, dan remang Petromaks. Mampus kau dikoyak-koyak bunyi.

Kau muncul begitu saja. Dari udara. Bersayap liberte, egalite, fraternite. Paris dan Eiffel merangkul dan Barthes yang muram di ujung bangku. “Prancis membuat kita sombong.” Post-modern, post-structuralism, post-entah-apalah-itu.

Winter atau spring, atau entah kapan, aku akan melumat Seine. Mengaduk-aduk isinya dan mencari namamu. Lalu, bayangmu mendapatiku. Murung dan tak berubah. Di Pangrango dan Seine, kau berdegup dalam gendang telingaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s