Kemenangan-kemenangan Kecil

Merawat harapan di negeri bernama Indonesia itu susah-susah gampang. Tiap hari kita dihadapkan pada persoalan yang membikin nyeri dan tak jarang merontokkan harapan kita satu per satu. Mencintai Indonesia pun bukan hal yang mudah. Seringkali, logika dan nalar kita berdebat dengan dirinya sendiri dan menggugat, “kenapa kita harus mencintai negeri ini?” Namun, semua proses itu kadang memang harus dilalui agar kita bisa benar-benar meresapi rasanya menjadi Indonesia.

Terlalu angkuh jika saya melabeli diri sendiri sebagai seorang nasionalis. Terlalu bodoh pula jika saya menganggap kontibusi saya untuk negeri ini akan penting. Sebagai orang Indonesia, saya sering merasa berada di titik nadir atau situasi stagnan. Saya tak bisa lagi mundur untuk menata ulang sejarah bangsa. Saya juga tak bisa terlampau jauh menatap masa depan yang berkabut, terlebih dengan beban sejarah yang senantiasa memukul mundur. Tidak ada obat panasea untuk semua persoalan kita.

Apa yang bisa kita lakukan, pada akhirnya, adalah dengan mencatat kemenangan-kemenangan kecil. Apa maksudnya? Kita bisa berpijak pada hari ini saja dan mencetak peluang gol yang ada di depan. Kita tak perlu terbebani dengan sejarah atau dibutakan utopia masa depan. Kenapa kita tak memanfaatkan detik yang tengah kita lalui untuk memberi arti pada kehidupan berbangsa dan bernegara?

Itu pula yang saya pikirkan ketika memutuskan untuk melanjutkan studi. Banyak pertaruhan yang saya lakukan untuk mengambil putusan itu. Setelah lulus dari program sarjana Sosiologi, Universitas Indonesia, saya bekerja sebagai jurnalis di salah satu media sepak bola nasional. Saya menggenapi cita-cita masa remaja saya dengan persis. Bukan hanya pekerjaan sebagai jurnalis, tapi media yang saya targetkan pun benar-benar saya dapatkan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya merasa ada yang tak pas pada tempatnya.

Ada lubang pada diri saya belum terisi dengan meraih cita-cita masa remaja itu. Saya berpikir dan merenung selama beberapa waktu, lalu mendapatkan sebuah hipotesis. Mungkin, pikir saya saat itu, saya terlalu fokus pada diri sendiri dan kurang memerhatikan apa yang di luar diri sendiri. Pemenuhan diri, pada akhirnya, bukanlah tentang kita sendiri, tapi bagaimana kita bermakna untuk orang lain dan hal-hal di luar kedirian kita.

Dengan itu, saya mulai menata mimpi untuk melanjutkan studi S2. Simpel saja, ketika berniat untuk berperan bagi orang lain, jalur akademis adalah yang pertama kali muncul di kepala. Dengan merenungi diri sendiri, saya merasa ranah akademis adalah tempat yang pas bagi saya untuk mengambil secuil peran untuk Indonesia. Semua atribut yang saya punya mengarah ke jalur itu. Meski saya tahu, saya harus mengorbankan cita-cita masa remaja saya demi mendapatkan hal itu.

Lalu kenapa studi di bidang pariwisata? Perjalanan hidup pula yang membawa saya ke sana. Saya gemar melakukan perjalanan, terutama ke berbagai tempat di Indonesia. Saya suka berkelana, melihat keindahan alam, dan mengecap kekayaan budaya Nusantara. Pada mulanya, perjalanan-perjalanan yang saya lakukan lebih bersifat eskapisme. Lambat laun, seiringnya banyaknya tempat yang saya kunjungi, saya mulai memahami dengan lebih seluruh tentang betapa besarnya potensi pariwisata yang negeri ini miliki.

Setelah itu, matematikanya menjadi lebih sederhana. Keinginan berperan untuk bangsa, niat melanjutkan studi, dan ketertarikan pada dunia pariwisata bermuara pada apa yang sedang saya usahakan sekarang. Menempuh studi MSc Leisure, Tourism, Environment di Wageningen University dan belajar di salah satu institusi pendidikan terbaik di dunia adalah jawaban matematika tersebut. Namun, ini bukan hasil akhir.

Saya bermimpi melihat Indonesia tumbuh sebagai negara yang kian matang di segala aspek, secara khusus di sektor pariwisata. Dan saya yakin, saya bisa mengambil peran di dalamnya melalui jalur akademis. Baik itu sebagai dosen, maupun sebagai peneliti bidang pariwisata. Sekecil apa pun, niat dan peran yang dilandasi semangat voluntarism pasti bermakna. Pada akhirnya, yang terpenting adalah kemenangan-kemenangan kecil.

Post-scriptum: Esai ini saya tulis ketika mendaftar salah satu program beasiswa. Teman saya menyebutnya terlalu “pop”. “Yakin lo mau nulis kaya gitu?” Saya bisa saja membual akan ini dan itu setelah masa studi. Tapi, saya percaya carpe diem adalah jawaban sementara bagi persoalan-persoalan kita. Dan, seringkali kita memang tak kuasa mengkhianati bara ide di dalam kepala. Menulis esai ini adalah perjudian. Saya menang.

Advertisements
Posted in ide

2 thoughts on “Kemenangan-kemenangan Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s