Sepakbola Kita

Sepakbola kita dibangun dengan keserakahan yang membabi-buta. Globalisasi menjadikannya rontok. Kita, para penonton yang antre dari pagi demi selembar tiket timnas, cuma korban yang malang. Bapak-bapak di dalam box sana menukar miliar dari tangan ke tangan, menjual harga diri, dan skor dirancang.

Kebudayaan sepakbola kita tak pernah lahir dengan matang. Orang-orang Eropa dan Jepang sudah sejak lama bicara soal industri. Kita terus meraba apa itu industri sepakbola? Sedang di sini yang ada hanyalah sepakbola sebagai kampanye politik, alat tukar bisnis, mainan cukong, dan simbol gaya hidup konsumen kelas tengah.

Kita tak pernah tertinggal dari Eropa. Tertinggal adalah posisi dimana seseorang hendak mengejar. Kita tak pernah mau mengejar. Kita sibuk dengan mimpi dan retorika, kita sibuk menyanyikan Indonesia Raya dalam riuh Gelora, kita sibuk menonton televisi di dini hari demi tim Italia atau Inggris. Kita tak mengejar apa-apa.

Semua yang terjadi hari ini adalah proses. Kita tak pernah tahu dimana muaranya. Tawar-menawar politik, uang mafia, dan kursi istana. Semua ditaruh di meja. Semua dibahas. Sepakbola di atas lapangan dibawa ke dalam sandi-sandi penguasa. Sepakbola dirayakan dengan kalkulasi rupiah dan singgasana. Persetan yang lain.

Sedang di lapangan-lapangan itu, anak-anak masih bermain dengan riang. Seorang pelatih dengan bara di dadanya. Mendidik anak belasan tahun. Cita-cita diasah di bawah terik. Sepakbola tak mati di atas rumput hijau. Sepakbola tak akan pernah mati, kata seorang kenalan. Namun, apakah “tak mati” saja cukup?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s