Jakarta (Catatan Lama)

4 dari 10 saudara bapak sudah meninggal, termasuk bapak. Menariknya, 3 dari 4 orang itu tinggal di Jakarta. Sedangkan 6 orang yang masih hidup, semua tinggal di bukan-Jakarta. Tersebar di Toraja, Makassar, Stade, dan Reno.

Itu adalah statistik yang bicara kematian sebagai realitas sosial, bukan sekadar mistis spiritual. Pada mulanya adalah gen yang dibawa turun temurun, lalu lingkungan sosial. Dan Jakarta, sedari awal saya percaya, bukan tempat yang teramat baik untuk hidup.

Nyawa selalu murah di Jakarta. Angka harapan hidup tak tinggi. Beban dan tekanan tiap hari menghimpit, lantas mengundang darah tinggi, serangan jantung, kanker, dan sakit-sakit lain. Berjubelan tiap hari di jalanan atau moda transportasi umum dengan jutaan orang bukanlah cara yang pantas untuk menumpang minum.

Kejadian ini membuat saya makin yakin untuk tinggal, hidup, dan mencari nafkah di luar ibukota. Saya percaya seandainya saya jadi kaum urban di Jakarta, saya akan mati sebelum mencapai usia 50, bahkan mungkin 40.

Sebelumnya mimpi hidup di luar Jakarta adalah sebuah harga mati yang tak bisa ditawar. Kini, saya tak tahu istilah yang tepat yang lebih dari itu. Adios (soon) Jakarta.

Post-scriptum: Ini saya ketik di notes smartphone pada malam hari 13 Januari 2015. Saya sedang di taksi menuju rumah duka RSPAD Gatot Soebroto. Beberapa jam sebelumnya om saya meninggal. Tulisan ini lama mengendap di smartphone. Malam ini, saya merasa perlu membaginya.

Advertisements

One thought on “Jakarta (Catatan Lama)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s