Akukau

Bagaimana jika kita mabuk-mabukan saja? Kita lupakan soal sekolah, Belanda, dan Yogyakarta. Kita melantur sajalah tentang surga dan ayunan dan bianglala. Untuk apa bicara negara saat orang miskin terus diinjak, kelas menengah ditipu, dan orang-orang kaya disiram uang. Untuk apa?

Mendingan kita bercinta di samping dapur, di sela-sela waktu kau memanggang daging babi dan aku mengaduk kopi dari kampung bapakku.

Apa guna ribut dan pusing soal mau jadi apa jika kita tak mau jadi apa-apa. Kita cuma mau berdua dan melukis kata-kata. Kau dan aku memandangi bulan dari atas rumput di taman belakang rumah. Botol-botol bir berserakan di pinggiran dan bau kencing anjingmu berkawan dengan wangi malam.

Aku menggambar wajahmu dalam kanvas sederhana. Kau menulis sajak tentang lumba-lumba di laut Borneo. Aku menyalakan televisi dan disihir sepakbola. Kau mendengar bule-bule Kanada bersenandung. Aku, kau, aku, kau lainnya.

Bisa gak sih hidup kaya gitu aja?

Kita melumat senja dengan makan cokelat, dan gigi-gigi jadi coklat, dan langit berubah coklat. Kita melumer dalam hari yang menua. Tapi, kita tak pernah tua. Kita bercanda tentang tuhan dan umur dan takdir yang norak. Kita meludahi klise dan basa-basi dan politika. Kita telanjang di surga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s