Another Carpe Diem Thought

“…hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung” / sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” (Yakobus 4: 13-14)

Kita terus saja beretorika soal masa depan. Padahal, kata sebuah ayat di bible, hidup adalah semacam uap yang tampak sejenak, lalu hilang tanpa bekas. Dengan kesadaran itu, masihkah kita lancang berdiskusi tentang masa depan?

Hari-hari ini, entah kenapa, ungkapan kuno ‘carpe diem’ terus saja memenuhi isi kepala. Saya pertama kali mengenal adagium itu dari film Dead Poets Society, beberapa tahun lalu. Tapi, jauh sebelumnya di masa SMA, ternyata saya sudah mendapatinya dari sebuah lagu berjudul Seize The Day.

Awalnya, bagi saya, carpe diem adalah semacam statement pemberontakan terhadap dunia yang sibuk menebak-nebak hari esok. Tapi, belakangan ini, carpe diem terasa lebih make sense dengan caranya yang ugahari.

Saya rasa ini bukan soal berontak atau melawan, tapi tentang penghayatan terhadap keajaiban-keajaiban subtil di keseharian. Kita terlalu sibuk mengunyah ‘besok’, ‘akan’, ‘nanti’, ‘tahun depan’, ‘5 tahun lagi’, dan kata-kata lain yang merujuk ke masa depan. Saking sibuknya, kita lupa dimana kita berpijak. Pada titik itu, kita kehilangan.

Saya sempat berbincang dengan kurator Jakarta Biennale 2015. Biennale itu mengambil tema ‘Maju Kena, Mundur Kena: Bertindak Sekarang’. Saya pikir, awalnya, tema itu hanya gimmick yang lucu dan menjual, karena menyitir salah satu judul film Warkop. Setelah mengetahui proses penggodokannya, tema itu terasa lebih dalam.

Kita tak bisa mengubah masa lalu. Kita pun tak bisa melukis masa depan dengan rinci. Kita berada dalam stagnansi. Kita tak bisa bergerak, karena yang-lalu dan yang-akan-datang menghimpit dari dua arah. Kita seperti dipasung oleh sejarah yang terlanjur jadi ingatan. Kita seperti dibutakan oleh utopia-utopia masa depan yang mengecewakan.

Di titik itu, saat kita sadar kita tak bisa kemana-mana, carpe diem menemukan maknanya. Tak ada yang lebih penting dari menikmati detik ini.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s