Ouch, I Don’t Know What I Write

Bahasa memisahkan kita, seperti ombak besar menggulung di antara pulau-pulau kecil yang terlupakan. Kita bicara dengan lidah, merah dan menyala-nyala, tapi dengan suku kata yang tak sama. Aku ingin membasuh matamu dengan angin dan nyiur yang melambai. Namun, di bibirmu ada ragu yang basah oleh airmata.

Kita membahas Sartre, Voltaire, Camus, dan omong kosong Prancis. Seakan-akan kita berjalan di Rue de Seine dengan tangan yang saling meraba. Kata-kata patah, ditimpa bom dan bising dan kotbah yang sia-sia. Matahari senja bersinar dengan gugup saat kau kernyitkan dahi dan bertanya, “tuhan ada gak, sih?”

Sedotan-sedotan kita bertemu dan mencium satu sama lain. Kita tertawa dan saling memandang di kedai tua di sudut yang tersisihkan di kota. Manusia beranjak menjadi kebarat-baratan. Kita tenggelam dalam sastra-sastra Eropa, tapi sok merasa nasionalis. Kita, produk yang tergesa-gesa dibikin, adalah binatang berbudaya.

Setelah jam berdetak 12 kali, aku ingin melipat tanganmu dan membungkammu dengan lautan makna. Kau dan aku larut, bergoyang kesana kemari dalam mabuk bahasa. Kita membuat langit-langit bergetar dan kota-kota gemetar. Di matamu, aku melukis senja. Bukan dengan jingga, tapi hitam pekat yang menenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s