Ingin

Kita selalu saja terjebak pada nasihat-nasihat yang kontradiktif, adagium-adagium yang bersebrangan, dan logika-logika yang bertabrakan.

Suatu siang, di sebuah kafe “kelas atas” di Zakarta Raya, saya berbincang dengan seorang BMX Flatlander asal Spanyol. Tentu saja untuk kepentingan pekerjaan. Basa-basi meluncur, bahasa Inggris patah-patah bertukar dari dua pria yang berbahasa ibu bukan-Inggris. Secara keseluruhan, obrolan itu sangat menarik. Biasa, tentang kebebasan. Terlalu banyak detail bagus yang disampaikan sang flatlander.

Namun, malam ini, saya mengingatnya pada sebuah kutipan. “You can be anything you want to be in this life.” Kalimat itu seperti menemukan maginya sendiri. Saya seperti menemukan kata-kata yang telah lama menyangkut di ujung lidah. Kepercayaan itu, meskipun awalnya tanpa rumusan, mengendap sudah sejak lama.

I want to be everything or to be nothing at all. Saya ingin menjadi segala atau bukan apa-apa. Eksistensialisme macam ini yang telah lama saya rawat, bahkan pada masa dimana isme-isme terasa masam dan jaman terasa terlalu bebal untuk bermimpi barang sedikit. Saya pikir, begini, hidup kok sayang kalau cuma mengerjakan satu atau dua profesi.

Tapi, seperti biasa, saya menggugat. Benarkah?

Gugatan itu kembali terangkum manis dari bibir orang lain. Kali ini, beberapa bulan setelah obrolan dengan si atlet flatland, saya bertanya-jawab dengan seorang kurator sebuah hajatan seni terbesar di tanah air. Pada satu titik, saya bertanya, apa itu kurator?

Dia menjawab bahwa kurator adalah orang yang berada di tengah-tengah arus kepentingan: seniman, donatur, industri, media, negara, dan semua. Seniman mau ini, tapi donatur tak punya duit. Seniman mau itu, tapi dirasa kurang menjual oleh panitia. Industri mau ini, tapi seniman merasa dikencingi idealismenya.

Dalam khaos itulah, dalam tabrak-menabrak itulah, seorang kurator gagah berdiri. Dia adalah orang yang menegosiasikan gagasan-gagasan yang bertubrukan itu, lalu meramunya menjadi jalan keluar. “You can’t have anything you want in life,” kata si kurator, dengan ekspresi dan gerakan yang Italiano-esque banget.

Dua kutipan yang bersebrangan itu, malam ini, memenuhi isi kepala saya. Membikin semacam piknik yang filsafati dalam imajinasi. Eksistensialisme. Idealisme. Negosiasi. Mimpi. Masa depan. Ingin. Semuanya berkecamuk di ribut pikiran.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s