2015

Sebelum menulis ini, saya melihat tulisan saya di Desember tahun lalu, yang merangkum kegilaan di 2014. Tahun ini tak ada bedanya. Hingga akhirnya saya simpulkan bahwa hidup selalu gila. Dan itu yang membuatnya menarik.

Lagi pula, seperti kata Bukowski, “some people never go crazy, what truly horrible lives they must lead”.

Sejak awal saya tahu bahwa 2015 akan jadi mengerikan. Saya percaya pada siklus. Dan setiap enam tahun, akan ada kengerian dalam hidup saya. Bentuknya macam-macam. Dan saya malas untuk membahasnya. Singkatnya, 2015 punya momoknya tersendiri. Setidaknya dalam empat bulan pertama.

Sepanjang kuarter pertama, saya kehilangan dua orang penting. Terkadang, saya masih mengingat kematian dua orang yang sangat sangat baik itu. Saya bertanya: kenapa orang-orang baik harus pergi lebih dulu, sedangkan bajingan-bajingan masih berkeliaran?

Kematian adalah satu hal. Kegagalan ialah hal lain. Pada Maret, semua rencana saya untuk tahun ini berantakan. Payahnya, saya tak punya cadangan. Rasanya seperti remuk. Saya ingat, selama beberapa pekan, saya seperti orang linglung. Hal itu mengubah banyak hal. Mulai dari yang spiritual, filosofikal, hingga praktikal. Tapi, sudahlah.

Tanpa berupaya sok bijak, setelah hal itu berlalu, saya seperti diperbarui. Jika pada 2014 saya belajar banyak dengan keharusan memilih berbagai pilihan, tahun ini saya seperti mengalami retorika Nietzsche: bagaimana caranya jadi baru, jika kau tak jadi abu dulu?

Jika sekarang saya menengok ke belakang, ada dua hal yang terpikirkan. Tapi, salah satunya bukan penyesalan. Pertama saya ngeri untuk membayangkannya lagi. Namun, kedua, saya merasa dikasihi, entah kenapa dan bagaimana.

Dolor hic tibi proderit olim. Someday this pain will be useful.

Semuanya membaik sejak Mei. Saya mulai bisa menerima hal-hal yang tadinya tak bisa saya pahami. Pemahaman memang perlu waktu. Dan penantian untuk itu selalu berharga. Lalu, saya mulai menyusun ulang semuanya. Membereskan apa yang remuk dengan lebih tenang. Adagium “experience is a cruel teacher” terasa pas.

Tujuh bulan terakhir berjalan biasa-biasa saja. Saya seperti diberi waktu untuk pulih. Dan itu cukup. Sekarang saya siap untuk gila-gilaan lagi. Karena hidup seperti mesin, yang serba aman dan nyaman, tak cocok untuk saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s