Cetak

Di suatu pagi, beberapa pekan yang lalu, saat sedang memanaskan mobil di luar pagar, saya melihat loper koran yang sama yang saya lihat ketika masih kecil.

Dulu, rumah kami berlangganan Suara Pembaruan setiap hari. Setiap sore, loper yang sama melemparkan koran ke teras rumah. Saya, yang sejak kecil tertarik pada jurnalisme, hampir selalu jadi orang pertama yang mengambil koran di teras setiap harinya.

Sebelum kami berlangganan, saya sudah sering membaca Suara Pembaruan dari rumah tetangga di belakang rumah. Kebetulan rumah saya dan tetangga itu tersambung pintu belakang. Jadi, saya sering main ke sana untuk sekadar membaca laman olahraga di bagian belakang koran. Itu masa dimana kata ‘internet’ belum pernah saya dengar.

Setelah berlangganan, saya makin rajin membaca koran. Tidak cuma rubrik olahraga saja, tapi juga rubrik-rubrik lain. Tentu saja, kecuali politik. Selain berita, saya hobi mengerjakan teka-teki silang di Suara Pembaruan. Kebiasaan itu saya tiru dari ayah. Mengingat TTS hari ini adalah romantisme tersendiri. Saya jadi tahu bagaimana caranya saya mulai mencintai kata-kata.

Sejak SMP, saya terbiasa membaca satu media cetak lain: Tabloid Soccer. Tabloid itu terbit pada hari Kamis setiap minggunya. Pada mulanya, saya membeli di kios koran dekat rumah. Setelah kios itu tutup, saya mencarinya di kios dekat gereja. Hal itu terjadi sampai saya menjadi bagian kecil tabloid itu dan hingga Soccer ditutup tahun lalu.

Melihat loper koran yang sama ketika saya masih anak-anak, beberapa pekan lalu, membuat ingatan-ingatan di atas muncul. Ingatan itu datang bersama konteks hari ini, dimana media cetak tengah berada dalam turbulensi hebat. Dan saya bukan lagi anak-anak yang menanti koran dilempar setiap sore, tapi sudah jadi bagian industri media.

Jaman berubah dan digital merajalela, tapi si loper koran tetap sama. Ia masih mengayuh sepeda, dengan topi di kepala, dan koran-koran disampirkan di bagian belakang sepeda. Tapi, ada yang berbeda. Jumlah koran yang ia bawa tak sebanyak dulu. Tempat koran di sepedanya sangat tipis. Saya ingat betul, dulu, bawaannya jauh lebih tebal dan berat.

Tentu saja, hal itu menggambarkan situasi media cetak hari ini. Koran, majalah, dan tabloid semakin sedikit. Makin tergeser oleh media online. Beberapa orang yakin media cetak akan habis, beberapa lainnya percaya cetak akan bertahan, sisanya meramalkan cetak bakal bangkit lagi. Namun, fakta hari ini, media cetak seperti pelari dengan nafas yang tersengal-sengal.

Saya tak tahu bagaimana masa depan media cetak di Indonesia. Dan saya tak berniat untuk menganalisisnya. Telaah sudah banyak ditulis dan dibahas. Faktanya nyaris setiap minggu ada saja media cetak yang tutup. Kenyataan ini agak mengerikan, terutama bagi orang-orang seperti saya, yang masih hidup dari media cetak dan masih bangga menjadi ‘man of print’.

Saya jadi teringat lagi tentang bagaimana awal mula saya ingin menjadi jurnalis. Ketika itu, tepatnya pada 2004, media cetak adalah sumber informasi utama, selain televisi. Jadi ketika saya bermimpi menjadi jurnalis, di bayangan saya adalah jurnalis media cetak: orang yang mencari berita, menulis artikel, mengirim naskah pada editor, dan melihat artikelnya di koran pagi esok harinya.

Sekarang, dan sejak menjadi jurnalis pada 2013 lalu, ada jurang yang menganga lebar antara bayangan saya 11 tahun lalu dan kenyataan hari ini. Internet dan media sosial membuatnya kacau. Dan saya mendapati cita-cita masa remaja dulu nyaris menjadi puing-puing utopia.

Nyaris karena kondisi dan peran media cetak hari ini tak sama seperti belasan tahun lalu. Dan karena, toh nyatanya, saya tetap memelihara gairah terhadap cetak dan masih bekerja di dalamnya. Walau dengan nafas dan waktu yang kian tipis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s