Background

Saya sedang menatap langit Lebak Bulus dari jendela yang terbuka. Dan saya memikirkan latar, memikirkan background. Kenapa kita terobsesi dengan latar? Lautan biru, puncak gunung, awan-awan, desain restoran edgy, monumen, nama jalan, apa saja.

Mengapa ia begitu penting saya tak tahu. Dan mungkin ia memang penting. Tanpa latar belakang, apa yang di depan tak ada arti. Ia menjadi bermakna dengan background. Namun, jika hanya latar yang kosong, tanpa persona atau benda, akankah ia berarti?

Fotografi adalah satu hal. Tapi soal latar ini bisa jadi lebih dalam. Kita bicara tentang manusia dan bagaimana berhadapan dengannya. Pada mulanya kita melihat dari luaran: baju yang dipakai, wangi parfurm, cara berkata-kata, dan detil-detil lain yang tampak.

Tapi kita tak berhenti di sana. Kita mencari tahu yang di belakang: asal sekolah, bacaan favorit, anak siapa, tinggal dimana, kepercayaan, identitas suku, dan hal-hal lain yang tersembunyi di belakang. Kita ingin menguaknya dan membuatnya terang.

Dari sanalah kita menilai: jelek-bagus, baik-buruk, keren-norak, dalam-dangkal, atas-bawah, dan berbagai kontradiksi lain. Tanpa latar, tanpa background, sesuatu hanyalah separuh. Latar membuatnya jelas. Entah itu di foto, panggung teater, buku, atau kisah-kisah tentang manusia.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s