Aku Rindu Hujan

Aku rindu hujan. Saat kemarau tak selama ini dan kota urung sombong. Lalu air tetes satu-satu di kaca depan, wiper dinyalakan. Kian deras dan jadi mengerikan. Wiper mati, embun perlahan tumbuh seperti kuman yang menyusahkan. Luaran tampak kabur, sayup, dan jauh. Hujan dan wiper yang mati ialah ingatan: mobil tua, ayah, kematian. Semua bercampur: Tuhan terasa dekat.

Aku rindu hujan yang jatuh di teras. Dan kusesap kopi hitam dalam cangkir bunga-bunga. Pelan merasuk ke hidung, bibir, dan kerongkongan. Tak ada pekerjaan, tak ada bau jalan metropolitan. Buku dan hari yang santai: oh masa muda! Kubalik halaman satu per satu. Hesse berkisah tentang perjalanan, orang gila, bunuh diri, Buddha. Hujan, teras, kopi, dan sastra yang mengalir: kubasuh muka.

Aku rindu hujan. Depok masih jauh kala langit menggelap cepat dan rakus. Matahari ditelan, siang berganti malam dalam hitungan speedometer. Di waralaba, motor-motor berhamburan. Mencari atap, berlindung dari air yang marah. 10, 20, 30 menit berlalu: mereda. Jok-jok terbuka: kanebo dan jas penangkal hujan. Deru knalpot serupa koor yang gegabah. Ngebut menuju tentram rumah.

Aku rindu hujan yang tiba-tiba. Mati lampu dan satu september: ambulans datang. Bohlam menyala seperti sulap. Peti diangkut dan raungan air mata. Duka menjalar: hitam, hitam, hitam. Terulang ribuan kilometer di timur laut, enam tahun kemudian. Sang kakak dalam upacara: doa-doa diumbar, langit terik, kerbau dipasung. Jelang penguburan, hujan tumpah begitu saja. Deras: kemarau usai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s