Asap

Setiap mendengar atau membaca berita soal bencana kabut asap, entah di Sumatra atau Kalimantan, saya selalu teringat Bapak Tarigan. Ia adalah seorang sopir travel yang berdomisili di Medan. Tapi saya bertemu dengannya di Bukittinggi, di sebuah hotel kecil. Pak Tarigan sedang mengantar tamunya ke kota itu, dan ia menginap di hotel itu, hotel sama yang saya tempati, yang saya lupa namanya tapi ingat suasananya.

Pada suatu sore di hari Sabtu, selepas hujan reda, kami berbincang di ruang tamu hotel. Berbincang ngalor ngidul, mulai dari mengomentari berita di televisi, hingga masalah kabut asap. Dia bercerita sering membawa tamu ke Pekanbaru, Riau, tempat dimana kabut asap seolah menjadi bencana tahunan, sama seperti banjir di Jakarta. Pak Tarigan berkisah sebagai aku-pejalan, aku-yang-singgah-sementara-di-Pekanbaru.

Ceritanya boleh jadi cerita mulut ke mulut, dan ia sebenarnya narasi yang umum ketika kita berbicara soal kabut asap. Kata dia, kabut asap (setidaknya di Riau) adalah ulah bajingan-bajingan korporasi kelapa sawit, yang ogah melakukan penebangan dan pembersihan lahan yang layak, yang karena biaya untuk itu mahal maka memilih jalan pintas yang menyusahkan: membakar hutan agar lahan bersih dan siap ditanam lagi.

Saya ingat betul muka Pak Tarigan saat berkisah soal itu. Ada nyala api di tiap kata yang meletus dari bibirnya, ada ledak dalam setiap nada suaranya. Tapi ia tak tampak marah. Ia bercerita dengan tenang, tapi siapapun tahu ada kesal yang dipendamnya, yang tak ditunjukkan oleh raut mukanya yang santai, tapi lewat pilihan diksi dan caranya merangkai kalimat, yang intinya mau bilang: pengusaha sawit brengsek!

Prosedur-prosedur ramah lingkungan memang sengaja dilintasi atas nama penghematan biaya. Masalah asap membumbung tinggi ke udara dan terbang hingga ke Singapura atau Malaysia tidak jadi soal. Masalah anak-anak kecil terkena ISPA dan para lansia batuk-batuk karena menelan asap kotor itu urusan belakangan. Yang penting lahan bersih dan roda industri kembali berputar dengan lancar, dan pongah.

Beberapa pekan ke belakang, kabut asap adalah elegi tersendiri, entah itu di televisi maupun imajinasi. Membuat saya teringat sore di Bukittinggi, tapi dengan getir di dada karena membayangkan senyum tengik bajingan-bajingan berkerah putih yang merekah di balik sesak napas para warga. Dalam tingkat yang lebih makro, kabut asap adalah persoalan nasional yang bisa merusak sendi ekonomi, pariwisata, dan geo-politik.

Semua hanya karena ulah segelintir bajingan yang rakus. Saya membayangkan, saat ini Pak Tarigan pasti masih menyimpan marah yang sama, persis seperti dua tahun lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s