Setelah Euforia Usai

Setelah euforia usai, kita akan berbincang di teras, tapi bukan tentang sepeda yang kita bawa melaju dengan gagahnya, dengan memakai celana dan sepatu khusus, juga tas kecil yang stylish. Kita lupa soal gerigi, sadel, stang, dan aksesoris cycling terkini. Seperti seorang pengidap alzheimer, kita tak ingat kapan terakhir kali mengayuh pedal di atas aspal-aspal ibukota. Gaya hidup sehat? Omong kosong.

Setelah euforia usai, kita akan terdampar di sebuah kubikel sempit di gedung pencakar langit di jantung ibukota. Kita akan menghitung laba, jumlah absen, dan mengingat detil-detil remeh. Backpack yang baru sekali dua kali dipakai berkelana ke kota asing terpanggul terus di punggung dalam perjalanan pusat kota – suburban, membentuk semacam kesan adventurer tapi tidak. Kita cuma budak korporat yang payah.

Setelah euforia usai, kita terpaksa bolak-balik apotek membeli antidepresan yang anehnya tak kunjung mempan. Yoga tak ada artinya lagi. Jenis aliran yoga apa pun terasa klise, karena kita telah belajar bahwa campuran spiritualisme kuno dan konsumerisme urban terasa menjijikkan. Kita tahu bahwa menjadi tenang, damai, dan penuh bukan soal gerakan-gerakan keren di Instagram.

Setelah euforia usai, kita akan melinting ganja bersama, melupakan gelas-gelas bir di kolong meja. Juga DSLR di balik laci. Dulu kita melanglang Jawa, mencari sunset, sunrise, dan muka-muka eksotik yang cool buat difoto. Sekarang tidak lagi, karena fotografi mengecewakan: mencari sudut, mengukur fokus, menunggu momen, tapi ujung-ujungnya diedit pakai Photoshop atau apalah itu namanya.

Setelah euforia usai, kita melihat rak-rak yang sesak oleh buku-buku tebal. Kebanyakan bahasa Inggris, ada yang bahasa Jerman tiga. Sebagian agak kekiri-kirian, karena ketika kita tumbuh menjadi dewasa berkumis, menjadi kiri itu keren, apalagi kalau bawa-bawa kutipan eksistensialis. Namun, usia bertambah, kritisme mati, dan tanggal kawin tiba. Jadi aktivis semu lumayanlah daripada nggak.

Setelah euforia usai, kita berangkat ke ujung senja. Kita melihat ulang apa-apa yang sudah berlalu di belakang dan sadar bahwa semua yang ngetren, keren, dan mendapat titel sebagai gaya hidup alias lifestyle, lambat laun akan menjadi banal, dangkal, dan murahan. Lalu pada akhirnya, akan menjadi rongsok, sampah, dan tak berarti. Setelah seluruh pusaran euforia ini usai, apa dong yang tersisa dari kita?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s