Kecemasan-kecemasan Digital

Pada sebuah konferensi pers peluncuran salah satu produk smartphone generasi terbaru, sang manajer berbicara demikian, “Kita tak perlu lagi cemas akan kehabisan baterai, karena produk terbaru ini lebih cepat di-charge dan lebih awet.”

Diakui atau tidak, suka atau tidak, smartphone adalah bagian tak terpisahkan dari peradaban manusia hari ini. Saya ulangi, suka atau tidak! Dia tak terelakkan. Kita boleh mencari pembenaran apapun tentang kenapa smartphone penting dan harus selalu diperbarui. Kita boleh juga mencari alasan kenapa tidak suka dengan smartphone yang merajalela, seperti wabah tapi dalam bentuk budaya. Mengerikan. Apapun itu, kita tak dapat mengelak.

Saya seringkali termenung di halte busway atau peron stasiun dan memandang orang-orang di sekeliling. Semua menatap smartphone masing-masing. Entah membalas email, sms, chatting, main game, dengar musik, browsing asal-asalan, atau apa saja. Sesekali jika sedang tidak memikirkan apa-apa, melihat pemandangan itu membuat bulu kuduk saya bergidik. Ada kengerian dalam kultur dimana layar dan mata selalu saling menatap. Selalu.

Dengan smartphone dan varian gadget lain telah menjadi budaya yang tak terlepaskan, yang datang kemudian adalah kecemasan. Saya membayangkan raja-raja Jawa kuno mungkin takut setengah mati bila kerisnya terselip entah dimana, atau pria Sumba yang khawatir jika tak menemukan parangnya dimana-mana, atau pemeluk agama yang merasa tak enak jika tidak salat atau pergi ke gereja. Kecemasan adalah anak kebudayaan.

Oleh karena itu, wajar bila kultur smartphone melahirkan kecemasan-kecemasan baru yang di masa-masa sebelumnya tak ada. Seperti yang dikatakan sang manajer di atas, kita pasti pernah cemas jika baterai smartphone kita tinggal beberapa persen. Kalau dipikir-pikir biasa saja, kalau sudah waktunya mati ya mati saja. Tapi kita tak mau. Karena smartphone mati telah menjadi semacam kiamat mini. Dan kita seringkali takut kiamat, kan?

Smartphone mati bisa berarti macam-macam: melewatkan pesan, telepon, atau email penting; mati gaya tanpa musik atau game atau twitter; dan hal-hal lain. Tapi yang jelas, kita cemas karena kita akan tercerabut dari kebiasaan yang kita bangun dan dibangun oleh masyarakat di sekeliling kita. Saat lepas dari kebiasaan, kita akan cemas. Seperti seorang pengelana yang, sekecil apapun, pasti cemas saat menginjak kota yang asing.

Tapi semua sudah terlanjur. Smartphone telah menjadi budaya yang melekat. Dan ia melekat beserta anak-anaknya, termasuk kecemasan-kecemasan remeh yang tak pernah kita anggap remeh. Soal baterai habis hanya salah satu contoh. Setiap kita pasti pernah mengalami kecemasan-kecemasan lain yang diakibatkan era digital ini. Saat kita seolah ditolong kemajuan jaman, sebenarnya kita sedang diancam. 24/7.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s