Aneh

“Saya merasa aneh melihat pria-pria Sumba bawa parang kemana-mana, termasuk di tengah kota,” tutur Kamga dalam salah satu acara televisi, malam ini.

Kepala saya ingin meledak mendengar kalimat Kamga. Ini tahun 2015 dan kata ‘aneh’ masih saja ada di program acara televisi bertema perjalanan dan wisata. Sangat kelas-menengah-ngehek-Jakarta. Kamga tak salah, dia memang beraktivitas di Jakarta setiap harinya. Dia juga bagian dari kelas menengah. Tetap saja, kok agak menyesakkan ya mendengar statemen-statemen bias kultur masih eksis.

Tren perjalanan (wisata) di Indonesia memang sudah tak setinggi beberapa tahun lalu. Namanya juga gaya hidup, ada pasang surutnya. Saya pikir, surutnya gelombang tren traveling bakal membawa sampah-sampah yang selama ini mengotori dunia perjalanan dan pariwisata Tanah Air, termasuk yang berasal dari dan berada di televisi. Saya pikir setelah orang-orang itu sering melakukan perjalanan, ada yang berubah.

Tapi, ternyata tidak.

Miris rasanya ketika kacamata urban/Jakarta masih dipakai saat memandang daerah dan kebudayaan lain. Apalagi kebodohan semacam itu disebarluaskan lewat media massa. Apa bedanya dengan pembodohan massal? Hal serupa kemungkinan besar akan ditiru oleh kaum urban lain saat sedang berplesir ke tempat-tempat yang ‘aneh’.

Tapi, namanya juga televisi. Dari dulu memang jadi alat reproduksi kedangkalan. Kebodohan dan kedangkalan lantas menjadi epidemi di kalangan turis dan pejalan. Terlebih bagi anak-anak kota besar yang baginya jalan-jalan ialah wujud hedonisme masa muda dan balas dendam atas kehidupan urban yang menyedihkan. Fuck criticism!

Memikirkan hal ini membuat saya mengingat salah satu bagian dalam Sajak Pulau Bali-nya Rendra:

Oh, look, honey – dear!
Lihat orang-orang pribumi itu!
Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera.
Fantastic! Kita harus memotretnya!

Pada akhirnya memang seperti itu. Kita berjalan ke tempat-tempat yang ‘eksotik’, ‘unik’, dan ‘aneh’ dengan melongok ke bawah dan memakai kacamata yang keliru. Lalu kita potret alam, budaya, arsitektur, lanskap kota/desa, makanan, bahasa, dan manusia yang kita temui dengan kamera yang cacat. Cacat karena kepala kita terlanjur dipenuhi sampah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s