Saut and I

tiba-tiba saja
aku mengingat potongan tulisan
saut situmorang
“maukah kau kucintai dengan cinta yang pernah kecewa?
…aku ingin mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa,
bukan dengan metafora metafora seperti penyair tua yang sok tahu tentang cinta itu!”

saut seperti aku
berjalan sepanjang hari
dengan koyak di dada
dengan luka yang menganga
dan masa lalu yang nestapa
“maukah kau menerimanya?”

seperti saut
kata-kataku patah di kerongkongkan
dan puisi adalah pelarian
saat dunia tak menerima
nasib yang terlalu pilu
“masih murnikah cinta yang pernah kecewa?”

aku dan saut
berdiam dalam hampa
memandang bayangan perempuan
yang tersenyum elok
di kepala masing-masing
“tapi apakah kau juga akan mencintaiku dengan cinta yang pernah kecewa?”

(tengah malam
15 agustus 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s