Anak-anak Posmodernisme

Untuk teman-teman segenerasi.

Kita adalah angkatan yang “dididik” posmodernisme. Berbeda dengan angkatan orang tua kita yang berkiblat pada modernisme. Berbeda pula dengan angkatan-angkatan lain sebelum kita yang “disekolahkan” dengan isme-isme lain. Karena kita anak-anak posmodernisme, kita tak pernah diajari bagaimana cara berpijak. Kita tak tahu apa pijakan itu, kita tak peduli kenapa harus berpijak, kita tak percaya apakah pijakan itu benar-benar ada.

Karenanya kita sering kali terombang-ambing, seperti kaleng coca-cola di lautan. Kita dipecut untuk selalu mengernyitkan dahi dan membantah, dan menentang, dan memberontak, dan mempertanyakan, dan tidak mempercayai apa-apa. Hingga akhirnya kita hilang arah dan terbiasa olehnya. Karena kita tak mengerti apa-apa soal arah, tak tahu apa pentingnya arah, dan bertanya kenapa harus ada arah di saat yang dipuja ialah ketersesatan.

Tapi, pada satu titik kita akan kelelahan berkejaran dengan pikiran kita sendiri, yang berlari kesana-kemari, memukul pepatah-pepatah lama, merobek filosofi usang, meludahi ajaran orang-orang yang lebih tua dari kita, meledek metode-metode yang rigid, mengekang, dan ketinggalan jaman. Kawan, suatu saat kita akan lelah. Kita ingin berhenti merayakan kegilaan ini, tapi sayangnya kita tak tahu bagaimana berpijak. Kita doyong dan jatuh.

Beberapa akan selamat dengan sedikit pragmatisme yang ia wariskan dari orang tuanya. Lalu belajar mempercayai modernisme dan meniru apa-apa yang dicita-citakan orang tuanya ketika muda: sekolah, kerja kantoran, mapan, berkeluarga, punya anak, beli mobil lagi, berinvestasi apa saja. Beberapa lainnya menolak untuk memeluk apa yang dulu mereka ludahi dan memilih mengambil risiko-risiko yang mendebarkan.

Kita tahu, seperti sejak lama dinasihatkan Kafka, you are free that’s why you are lost. Mungkin saja kita butuh pijakan, butuh masuk ke dalam sebuah sangkar agar kita selamat dan bertahan. Namun, kita juga tahu bahwa ada yang tergadai ketika menjual diri demi pijakan atau sangkar tertentu. Kita takkan lagi bisa terbang di langit yang bahkan kita tak yakin apa warnanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s