Caso Catania

Mari kita bicara soal sepakbola dan Sisilia, lalu kita terpaku pada Palermo dan Catania, dua klub Serie A asal pulau sebelah selatan Italia itu. Tentang Sisilia dan sepakbola, saya pribadi selalu terngiang betapa berisiknya Renzo Barbera saat Palermo menjamu musuh-musuhnya, apalagi kalau melawan rival sekota Catania. Tapi bagi Italia, Sisilia, khususnya Catania, punya hal lain yang lebih berharga untuk dikenang. Kenangan itu bernama Caso Catania.

Caso Catania jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris akan menjadi Catania Case. Dan jika anda ingin menjadikannya Bahasa Indonesia, jadilah ia Kasus Catania. Ia merupakan suatu perkara yang terjadi satu dekade silam di sepakbola Italia. Dari namanya kita tahu kasus ini melibatkan Catania. Meski begitu, Caso Catania pada akhirnya tak hanya tentang Catania, ia lantas melibatkan seluruh Italia.

Kisah ini dimulai di akhir musim 2002-03, saat dimana Catania menerima kenyataan pahit harus terdegradasi dari Serie B menuju Serie C1. Namun cerita ini tak akan seru jika hanya sampai disitu. Tak seru pula bila pemilik Il Elefanti saat itu bukan sosok bernama Luciano Gaucci. Publik mungkin mengingat Gaucci sebagai presiden Perugia yang sempat mengusir Ahn Jung Hwan karena mencetak gol ke gawang Italia. Namun, tak begitu banyak yang ingat bahwa Gaucci punya klub lain di selatan Italia.

Saat Catania didaulat hukuman degradasi karena menempati posisi 17 dari 20 tim yang berlaga di Serie B, Gaucci tak terima. Alasan yang diajukan Gaucci adalah sebuah pertandingan versus Siena yang berkesudahan 1-1 pada 12 April 2002. Menurut Gaucci, Siena yang musim itu menjuarai Serie B memasang pemain yang tak sah. Pemain bernama Luigi Martinelli menurut Gaucci tak boleh bermain karena masih menjalani hukuman akumulasi kartu. Disinilah peliknya Caso Catania.

Tertanggal 30 Maret 2003, Martinelli mendapat kartu kuning pada laga Siena melawan Cosenza. Dengan kartu kuning itu Martinelli tak boleh bermain di laga Serie B selanjutnya melawan Napoli pada tanggal 5 April 2003. Dan benar, Martinelli tak main saat melawan klub Naples itu. Tapi, di hari yang sama, Martinelli terlibat dalam pertandingan Primavera yang melibatkan Siena dan Ternana. Seminggu setelahnya Martinelli bermain lagi untuk Siena di Serie B saat menghadapi Catania di Sisilia dalam partai yang mungkin legendaris bagi pendukung Catania itu.

Gaucci protes pada FIGC karena merasa Martinelli seharusnya tak boleh bermain menghadapi timnya karena ia melanggar aturan suspensi dengan tetap bermain meski hanya di level Primavera. Gaucci berpendapat dengan bermainnya Martinelli di Primavera berarti hukuman suspensi saat melawan Napoli menjadi batal dan harusnya dialihkan ke partai selanjutnya, yakni saat melawat ke Catania. Oleh karena itu, Gaucci bersikukuh Martinelli ialah pemain yang tidak sah di laga itu.

Dengan dasar itu Gaucci maju ke pengadilan untuk memperjuangkan perubahan hasil pertandingan yang dengan tambahan 2 poin bagi Catania berarti mereka selamat dari degradasi. Berdasar Calciopoli dan Calcioscomesse belakangan ini kita tahu bahwa hukum olahraga di Italia agak rumit. Singkatnya pengadilan sempat memenangkan gugatan Gaucci sehingga Catania selamat, lalu oleh badan lain keputusan diubah lagi sehingga Catania tetap degradasi, lalu Gaucci protes lagi dengan alasan keputusan tak bisa diubah, lalu Catania selamat lagi. Demikianlah rangkaian kerumitan itu.

Selamatnya Catania dari degradasi mengandung konsekuensi bagi Napoli dan Venezia yang tadinya berada di peringkat 15 dan 16 dengan poin yang sama yaitu 45. Dengan tambahan 2 poin Catania, Napoli dan Venezia lantas harus melakukan playoff karena memiliki poin sama dan mereka layak “memperebutkan” satu tiket ke Serie C1. Namun Italia adalah negeri dongeng yang sejati. Cerita tak berhenti disitu.

Venezia yang merasa tak terima dengan putusan FIGC atau pengadilan atau entah siapa yang berwenang mengajukan protes. Kali ini dasar yang dipakai Venezia adalah justru partai versus Catania pada 17 Mei 2003 yang berakhir dengan kemenangan 2-0 Catania. Ibarat mendapat karma, Venezia menganggap Catania memakai pemain yang tidak sah di laga itu, yaitu Vito Grieco. Mirip dengan kasus Martinelli, kasus Grieco ini pun melibatkan aturan tentang suspensi dan pertandingan Primavera. Pelik memang.

Singkat cerita, kasus Catania vs Venezia itu bergulir di pengadilan dengan cukup lama bahkan ketika jadwal musim yang baru sebentar lagi akan dimainkan. FIGC yang saat itu dipresideni sosok kontroversial Franco Carraro, entah dengan logika apa, lantas memutuskan aturan yang hingga saat ini akan berdampak bagi sepakbola Italia. Catania beserta 3 tim lain yang harusnya terdegradasi tak jadi didegradasi dan tetap berada di Serie B. Hal itu berkonsekuensi pembengkakan kontestan Serie B dari tadinya 20 menjadi 24.

Saat itu salah satu klub yang mendapat untung adalah Fiorentina. Catania, Genoa, Salernitana, dan Cosenza yang berdasar klasemen dihukum degradasi, menjadi selamat karena kasus ini. Namun tidak dengan Cosenza yang mengalami bangkrut sehingga mereka tak dapat melanjutkan petualangan di Serie B. Karena ada satu jatah kosong di Serie B, FIGC lalu berpikir untuk mengisi kelowongan itu. Saat itulah Fiorentina mendapat hoki. Viola musim sebelumnya berkutat di Serie C2 karena bangkrut, lantas mereka jadi juara disana dan menuju Serie C1. Namun karena alasan “sporting merit” yang diberikan FIGC, Fiorentina tak perlu mengarungi Serie C1 dan langsung menuju Serie B menggantikan tempat Cosenza.

Lalu, meski sempat ditunda, bergulirlah Serie B musim 2003-04 dengan 24 kontestan yang selanjutnya berdampak pada penambahan kontestan Serie A menjadi 20 tim (yang tadinya 18) pada musim 2004-05, sedangkan kontestan Serie B dikurangi lagi menjadi 22 tim. Saat musim bergulir itulah putusan soal kasus Catania vs Venezia diumumkan dan hasilnya Catania terbukti bersalah dan Venezia layak mendapat kemenangan. Dengan putusan dan kemenangan Venezia itu, hitungan poin menempatkan Catania di posisi 17 dan olehnya pantas didegradasi. Tapi demikianlah musim sudah berjalan dan putusan itu jadi tak punya makna.

Di awal musim 2004-05, Gaucci menjual Catania kepada Antonino Pulvirenti yang menjabat presiden Catania hingga detik ini. Semusim kemudian Catania mendapat tiket promosi karena sukses menempati posisi runner-up. Jadilah musim 2006-07 untuk pertama kalinya dalam 22 tahun Catania ikut serta di pentas tertinggi Italia. Tak peduli bahwa tiga tahun sebelumnya mereka harusnya didegradasi ke Serie C1.

Bagi mereka yang pernah membaca karya-karya Mario Puzo dan mereka yang percaya bahwa mafia memang ada dan sangat berkuasa di Italia tentu mendapatkan sense yang lebih baik dalam kisah Caso Catania ini. Saya juga tak ingin berkonspirasi dengan menyebut Gaucci, Carraro, atau siapapun yang terlibat dalam kasus ini merupakan mafia atau antek-antek mafia. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kasus ini “berpusat” di Sisilia. Selanjutnya saya tak ingin membatasi imajinasi pembaca.

(Februari 2013)

NB: Pernah tayang di Define Football. Ditampilkan kembali dengan tujuan merawat informasi yang siapa tahu berguna bagi seseorang di luar sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s