Beri Daku Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh

(Taufiq Ismail)

Potongan di atas adalah bait penutup dalam puisi ‘Beri Daku Sumba’ yang ditulis Taufiq Ismail. (Dan yang saya contek untuk judul.) Lucunya, puisi tersebut ditulis Taufiq pada tahun 1970, atau 20 tahun sebelum dia menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Sumba. Puisi itu ia tulis saat berada di Uzbekistan. Menurutnya, apa yang ia lihat di Uzbekistan mirip dengan imajinasi tentang Sumba yang kerap diceritakan temannya asal Sumba. “How is it possible to feel nostalgia for a world I never knew?” tanya Che Guevara dalam salah satu bagian di The Motorcycle Diaries.

Obsesi ‘Beri Daku Sumba’ nyatanya bukan hanya dirasakan Taufiq Ismail seorang. Banyak orang menyimpan hasrat untuk menikmati “cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari / …ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba.” Dari beragam kekayaan alam dan budaya yang dimilikinya, Pasola mungkin yang paling memikat orang untuk mengunjungi Sumba. Ia seringkali menjadi alasan utama kaum traveler terbang ke pulau di sebelah selatan Flores itu.

Saya adalah satu dari banyak orang yang terpikat oleh Pasola. Maka ketika mengunjungi Sumba pada Maret tahun lalu, saya memastikan masih kebagian festival Pasola. Wajar saja, Pasola hanya diadakan beberapa kali dalam kurun waktu Februari hingga Maret. Untuk tahun 2014, Pasola diadakan di tujuh lokasi yang tersebar di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Saat saya mendarat di Bandara Tambolaka pada sebuah siang di hari Minggu, masih ada dua Pasola yang masih bisa saya saksikan. Namun, pada akhirnya hanya Pasola Wahai yang saya kunjungi.

Sesuai namanya, Pasola Wahai digelar di Desa Wahai, Kecamatan Kodi Balaghar, Kabupaten Sumba Barat Daya. Dengan menyewa ojek dari Kota Waitabula, saya melewati banyak desa selama lebih dari sejam sebelum sampai ke lokasi Pasola. Beberapa orang yang saya temui mengatakan bahwa Pasola di Wahai tidak seramai dan setenar Pasola Lamboya, Pasola Wanokaka, dan Pasola Ratenggaro. Namun bagi saya suasana sudah sangat ramai dan riuh, membuat saya bertanya-tanya, “Kalau Pasola ini dianggap sepi, bagaimana ramainya Pasola lain ya?”

Saat tiba di lokasi yang berupa lapangan rumput luas, para pria telah ada di atas kuda dengan menggenggam lembing kayu yang siap mereka lempar ke arah lawan masing-masing. Lembing kayu yang dalam Bahasa Sumba disebut sola atau hola inilah yang menjadi akar etimologi dari istilah Pasola. Dengan menambah imbuhan pa-, secara harafiah Pasola berarti permainan menggunakan lembing kayu. Silih berganti, pria-pria yang mewakili dua desa yang bertanding menunggang kuda ke tengah lapangan dan mengarahkan lembing ke arah lawannya. Banyak yang meleset, tapi tak sedikit pula yang tepat sasaran.

Diiringi teriakan para penonton, para ksatria berkuda terus berkeliling di lapangan dan lembing-lembing berterbangan. Sayang sekali, acara adat kepercayaan Marapu ini harus terhenti karena ricuh. Salah satu kelompok mendadak menyerang kelompok lain karena tak terima anggotanya terkena hantaman lembing dengan telak. Para penonton terbakar suasana dan berlarian masuk ke arena. Setelah lembing kayu, kini giliran batu-batu yang berterbangan. Dengan alasan keamanan, Rato atau pemuka adat setempat memutuskan untuk menghentikan Pasola Wahai ini. Satu per satu peserta dan penonton meninggalkan lokasi. Saya kembali ke Waitabula.

Sesampainya di Waitabula, saya bergegas merapikan barang dan bersiap menuju Kota Waikabubak. Dengan meninggalkan wilayah Sumba Barat Daya, saya menyelesaikan misi dan mimpi menyaksikan Pasola secara langsung. Masuk ke Kabupaten Sumba Barat, maka pantai-pantai berpasir putih menanti.

Dua pantai yang menarik adalah Pantai Marosi dan Pantai Kerewei, keduanya terletak di Kecamatan Lamboya. Dibanding pantai-pantai lain di Sumba Barat, Marosi dan Kerewei relatif paling dekat dari Waikabubak. Keduanya bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Bandingkan dengan pantai-pantai lain yang bisa memakan waktu 3-4 jam perjalanan. Secara umum, pantai-pantai di Pulau Sumba memang cukup jauh dari kota besar. Oleh karena itu, penting untuk memperhitungkan waktu, transportasi, dan akomodasi dengan matang sebelum pergi ke Sumba agar bisa menikmati banyak pantai.

Saat menyambangi Marosi, tidak ada orang lain di pantai itu. Seakan pantai itu eksklusif milik saya seorang. Hamparan pasir putih dan bentangan laut biru yang jernih menyegarkan mata setelah menempuh perjalanan cukup jauh dari Waikabubak. Dari kejauhan tampak beberapa nelayan sedang melaut, mencari ikan. Setelah bermandian air laut di pantai putih Marosi, saya pergi ke Kerewei yang terletak tak jauh dari sana.

Sama seperti Marosi, Kerewei juga berpasir putih. Namun, di Kerewei lebih banyak karang di tepi pantai dan tekstur pasirnya lebih kasar. Saya pun memanjat salah satu batu karang yang kurang lebih setinggi 3 meter. Dari atas batu karang itu saya menikmati panorama laut lepas. Pesisir lain juga tampak dari kejauhan, termasuk kawasan Nihiwatu yang konon disesaki oleh para wisatawan dan investor mancanegara. Menjelang sore, setelah lelah dimandikan air laut dan terik matahari pesisir Sumba, saya kembali ke Waikabubak dengan kepuasan yang tak tergambarkan.

Selain pantai-pantainya, di Sumba Barat juga terdapat banyak kampung adat. Salah satunya terletak di tengah kota Waikabubak, yaitu Kampung Adat Tarung. Di Kampung Adat Tarung, para pendatang bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat asli Sumba yang tinggal di rumah-rumah adatnya yang unik. Untuk menambah penghasilan, para penduduk di sana biasa menjajakan kain tenun hasil karya mereka kepada pendatang sebagai cendera mata. Saya pun sempat mengunjungi Kampung Adat Tarung sebelum melanjutkan perjalanan ke Waingapu, kota di sebelah timur Pulau Sumba.

Perjalanan Waikabubak-Waingapu bisa ditempuh dalam waktu 4-5 jam dengan melewati wilayah Sumba Tengah. Sepanjang perjalanan, mata akan dimanjakan lanskap padang sabana luas khas Pulau Sumba yang mungkin sudah sering didengar sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Di tengah keluasan padang-padang itu, tampak kuda-kuda mencari makan atau sekadar berlarian di alam bebas. Semakin mendekati Waingapu, pemandangan itu akan semakin jarang dilihat dan digantikan lanskap kota.

Sama seperti di Sumba Barat, kebanyakan pantai di Sumba Timur juga jauh dari kota. Salah satu yang masih terjangkau adalah Pantai Londa Lima, berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Waingapu. Londa Lima juga pantai berpasir putih, namun sayang dari segi kebersihan pantai yang satu ini tak sebersih Marosi atau Kerewei. Banyaknya sampah di pinggir pantai sedikit mengurangi kecantikan panorama.

Kendati tidak bisa mencicipi banyak pantai di Sumba Timur, saya bisa menghibur diri dengan menikmati pemandangan laut di Dermaga Lama Waingapu. Laut biru pekat dan gunung yang sekilas berbentuk meja menjadi sajian di dermaga tersebut. Saya mengunjungi Dermaga Lama di hari terakhir sebelum meninggalkan Sumba. Di sana saya menikmati matahari yang pelan-pelan terbenam. Sunset itu menutup perjalanan saya di Sumba, sekaligus mengingatkan potongan lain dari puisi ‘Beri Daku Sumba’: “Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua / Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh.”

(2014)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s