Balada Sepakbola Modern

Wacana “Against Modern Football” belakangan mulai dicuatkan oleh beberapa kelompok fans sepakbola. Banyak dari mereka mungkin menganggap bahwa modernisasi sepakbola sejatinya hanya menghempaskan esensi dari sepakbola itu sendiri sebagai olahraga. Menjadi modern, sepakbola lantas menjadi pabrik industri yang megah. Dalam proses pabrikisasi itu, segala yang termasuk dalam sepakbola kemudian hanya menjadi sesuatu yang bersifat artifisial. Esensi mati, yang sisa hanya industri tadi.

Sepakbola modern memang kian terasa semakin banal. Contoh kasus yang terngiang di kepala, entah mengapa, adalah perihal bocoran jersey-jersey klub-klub Eropa. Musim belum pula usai, sedang urusan kostum musim depan sudah terlampau dipikirkan. Sepenting itukah untuk mengetahui bagaimana gambaran seragam yang akan dipakai klub-klub itu musim depan?

Jawabnya adalah iya, dalam konteks sepakbola modern yang gila ini, yang konsumsi adalah salah satu aspek terpenting didalamnya. Namun kita seringkali luput, bahwa dalam konteks mengonsumsi tersebut, kesadaran palsulah yang hadir.

Konsumen sepakbola adalah siapapun yang menikmatinya. Dalam kenikmatan mengonsumsi sepakbola sebagai sebuah, entah budaya, hiburan, gaya hidup, atau waktu luang, itulah konsumen lalu mengidentifikasi simbol, tanda, atau asesori yang melekat dalam permainan itu. Jersey kemudian jadi simbolisasi paling mudah, mungkin bersinergi dengan perkembangan fashion yang juga turut melumasi kesadaran yang palsu itu. Atas nama identitas sebagai penggila bola, atau penggemar salah satu (atau dua atau tiga) klub maka membeli jersey menjadi semacam kewajiban tak tertulis.

Industri pintar betul mengemas apa yang akan dipasarkannya. Sepakbola, dalam hal ini sebagai komoditi, merupakan sesuatu yang pasti akan laku keras, dan jersey-jersey itulah manifestasi paling telanjang dari kelakuan itu. Berkembangnya teknologi internet lantas semakin menjadikan bisnis jersey sebagai ladang yang basah, dimana semakin banyak orang yang terlibat, entah sebagai produsen, distributor, ataupun konsumen. Tak ada yang salah dengan perputaran bisnis itu, tak ada yang salah. Dalam semangat pencarian keuntungan, apa yang dilakukan penggiat bisnis semacam itu adalah sesuatu yang progresif. Lagipula karena bisnis semacam itu sepakbola makin menjadi populer, dan seterusnya roda berputar hingga proses itu tak akan usai.

Kembali ke fenomena leaked jersey tadi, sejatinya ia hanya hasil akhir dari segala kebutuhan (atau keinginan?) untuk mengonsumsi tadi. Ia tak akan hadir dengan sendirinya bila pasar tak bergerak. Dan pasar tak bergerak seandainya pabrik tak berjalan. Bocoran jersey menunjukkan betapa buramnya sepakbola modern yang kadangkala memang mengagungkan hal-hal yang tidak esensial. Bukan berarti jersey sama sekali tak penting, bukan pula para pemain lantas bermain dengan telanjang, namun memamerkan calon jersey musim depan jelas tak penting-penting amat di dalam musim yang masih berjalan, bahkan mungkin lagi seru-serunya.

Sepakbola perlahan memang bergerak tak tentu arah tujuan. Ia terlalu dinamis hingga seringkali termakan arus jaman yang dengan teganya bisa menghabisi segala esensi luhur yang mungkin dimilikinya. Sudah lama memang sepakbola tak hanya sekedar sebuah olahraga, sudah lama ia lebih dari sekedar kebahagiaan mencetak gol ke gawang lawan. Sepakbola selain sifatnya untuk menyegarkan dan membahagiakan, bagaimanapun lekat dengan konteks tempatnya hidup.

Jadi apabila ia menjadi modern, itu adalah hakikat yang memang begitulah adanya. Tapi ketika ada sekelompok orang yang merasa risih dengan kecemaran sepakbola era ini, mereka tak bisa pula disalahkan. Mungkin ide “Against Modern Football” sesekali bisa membuat kita merenung sejenak tentang kegilaan apa yang sebenarnya kita cintai dan hidupi saat ini.

(Maret 2013)

NB: Pernah tayang di Define Football. Ditampilkan kembali dengan tujuan merawat informasi yang siapa tahu berguna bagi seseorang di luar sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s