Lelaki dan Bulan Perak

Di balik malam, aku berjalan gontai. Aku berpapasan dengan rembulan yang keperakan. Aku bercerita dengannya sambil menghabiskan malam yang terlanjur terbuang sia-sia. Aku bercerita soal matahari yang sangar akhir-akhir ini. Juga soal lautan dan gunung yang sering mengamuk. Bulan diam mendengarkan dengan seksama.

Aku lalu terkantuk-kantuk pulang ke kamarku. Aku membanting keras pintu kamar dan menjatuhkan diri ke tempat tidur seperti tertembak senapan. Aku mati sesaat ditelan lelah dan malam. Pagi lalu datang membangunkanku pelan. Ia agak marah tapi tak butuh air untuk mengangkatku dari tempat tidur.

Aku mencuci mukaku yang masih berlipat-lipat. Dari balik jendela aku lihat langit biru menantang. Matahari masih hangat. Lalu kuarahkan diri ke balkon untuk menelan habis kopi yang baru aku seduh. Sambil menunggu suhunya turun, aku ambil buku puisi koleksiku. Adakah yang lebih indah dari pagi dengan puisi?

Lalu lalang orang sesekali menganggu pemandanganku. Bunyi anak-anak yang bermain di bawah sana memecah konsentrasi. Aku hirup wangi kopi dan pelan menyeruputnya. Aku senderkan kepalaku di kursi malas. Kursi itu bergoyang selayaknya ombak yang menari-nari di bibir pesisir. Aku bahkan mulai mengantuk lagi.

Aku kembali ke dalam kamar. Menutup pintu balkon sambil tanganku memegang gelas kopi yang tinggal separuh. Aku rebahkan badanku lagi di atas tempat tidur yang bahkan belum sempat jadi rapi. Aku hanya berniat tidur-tiduran barang sebentar. Tapi tak apa jika tidur pulas, toh aku tak mengejar apa-apa hari ini.

Jangankan hari ini. Dalam hidup ini, aku pun tak tahu mengejar apa. Aku hanya petualang yang tersesat dan menikmatinya. Aku coba berjalan perlahan tanpa ada niatan mencari jalan keluar karena aku terlanjur meresapi jejak-jejak langkah yang salah arah. Hingga akhirnya aku sampai di jalan utama, aku pun masih merasa sesat.

Seperti itulah aku. Aku bukanlah pelari dalam kehidupan ini, yang mencari garis akhir dan bersorak-sorai. Aku memang pemimpi yang punya hasrat, tapi aku lupa kapan terakhir kali punya cita-cita. Tapi harus aku akui, aku memang punya beberapa harapan kecil yang tak terlalu aku usahakan. Hanya menggantungkan mimpi itu di ujung pelangi. Siapa tahu mimpi itu bisa jadi pelita yang membuat jalan hidupku masih berlanjut.

Aku ternyata tidur cukup pulas entah berapa lama. Aku memang bukan orang yang menghitung waktu. Di kamarku ini, aku tak menaruh barang temuan bernama jam atau kalender. Bagiku waktu hanya pagar pembatas yang harusnya kita loncati dan bukan jadi jeruji besi yang memenjara, yang mengekang. Jadi aku putuskan untuk hidup tanpa tahu sekarang jam berapa dan hari apa. Aku hanya tahu pagi, siang, dan malam.

Kadang aku mempertanyakan kenapa dulu mau diperintah jarum jam dan diatur angka-angka dalam kotak tanggal. Merasa bodoh sekali mengingat hal-hal semacam itu. Tak ada yang lebih bodoh dari kehidupan yang terpaku jadwal buatan orang lain.

Aku lalu berdiri menuju meja, menuju gelas kopi yang sisa setengah. Aku tegak semuanya hingga habis. Kutaruh gelasnya di bak cucian piring yang bertumpuk tak keruan. Aku menyalakan televisi tanpa alasan. Mungkin karena kebiasaan. Mungkin karena ada berita yang menungguku untuk menontonnya.

Aku gonta-ganti channel televisi hingga aku tak sabar dan mematikannya dengan segera. Televisi kini jadi tempat kebohongan berbalut elegan dengan kekuasaan dan kemampuan pundi emas. Tipuan dihias secantik mungkin hingga orang hidup dalam kepalsuan, dalam bingkai omong kosong manis. Televisi kini mengaburkan batas antara nyata dan fiksi. Aku tak tahu apakah aku hidup dalam realita atau imajinasi. Aku tak terlampau peduli.

Aku kembali beranjak ke balkon. Mungkin ini bagian favorit dari kamar kecilku. Di sini aku seperti melihat lukisan yang bisa berganti-ganti tiap saat. Mungkin seperti video, tapi aku lebih suka istilah lukisan. Karena video adalah buatan jaman modern, sementara aku selalu merasa hidup di jaman yang keliru. Aku pun tak tahu apakah aku masih merasa salah jaman jika ditempatkan di jaman batu atau jaman pencerahan Eropa. Atau aku memang sebenarnya pembenci kehidupan.

Awan putih berbaris bergerak entah menuju mana. Ia mungkin kehilangan arah dan lupa membawa kompas. Mungkin juga ia tak suka terarah dan ingin bebas mencapai segala kemungkinan yang tersedia di keliaran langit biru nan telanjang.

Sepasang burung pipit berterbangan kian kemari hingga berhenti di sepotong dahan kering yang telah jatuh di bebatuan. Kicaunya membangunkan angin yang kemudian mulai bergerak kian kemari menghadirkan kesejukkan tropis.

Aku masih di kursi malasku. Kursi yang mungkin memang dirancang untuk pemalas sepertiku. Mungkin juga ia dibuat bagi orang rajin yang butuh waktu untuk bermalas-malasan sejenak. Untuk mengingatkan bahwa ada waktu-waktu yang harus dihabiskan dengan santai dan tak melulu mesti berlari mengejar layangan yang putus.

Layangan itu bisa saja putus karena ditarik terlalu kuat. Ia tak tahan dan terbang selamanya menjauhi bumi. Coba dikejar sedemikian rupa namun kenyataan tak bisa dicurangi seperti kita menipu teman sepermainan dalam permainan petak umpet. Di saat seperti itu mungkin kursi malas jadi tempat terbaik untuk beristirahat dan menyadari bahwa masih banyak layang-layang yang bisa diterbangkan.

Aku sendiri pernah punya layang-layang. Ia lepas karena aku melirik gadis berambut ikal yang sedang tertawa sambil mengejar anjingnya. Aku lalu coba mengejar layanganku sementara gadis itu masih mengejar anjingnya. Kami berdua saling mengejar kesayangan masing-masing hingga terpisah dan tak pernah bertemu lagi.

Aku bangkit dari kursi yang baik itu. Aku berdiri memandangi apa yang tampak di bawah. Sepasang muda-mudi sedang berbagi sebuah sepeda. Si pemuda di depan, si pemudi di belakang sambil duduk miring memeluk pinggang pemuda. Seorang nenek yang modis menyirami tanamannya yang warna warni, yang tampak lebih memesona dari baju yang dikenakannya.

Aku masuk ke dalam kamar didorong oleh bunyi perutku yang berteriak kelaparan. Aku melongok ke kedalaman kulkasku yang lengang. Rupanya ada pizza bekas kemarin malam. Aku bebaskan ia dari dingin yang membekukannya. Aku taruh ia di meja makan bundar kecil yang kubuat dengan tangan sendiri. Aku duduk dan mulai memotonginya, lalu memasukannya ke dalam mulut dan perut.

Ku ambil sekaleng minuman soda terkenal yang sedang ramai di media karena demonstrasi buruh-buruhnya. Kutuang sedikit demi sedikit memasuki badanku yang berbau matahari. Aku kemudian masuk toilet untuk melengkungkan sebuah seni dengan air. Aku kembali menuju balkon sambil menenteng sebuah novel perang yang satir.

Aku baca lembar demi lembar berharap sebuah inspirasi yang memabukkan. Tapi buku bukanlah sebuah doa yang mujarab. Ia hanyalah pemantik yang tak akan membakar apa pun jika tak ada sumbu sama sekali. Buku mungkin pesawat kertas yang sanggup menerbangkan pembacanya keliling dunia, tapi ia tetap tak kuasa membangunkan putri yang tak mencintainya.

Aku mulai bosan setelah seharian hanya menjejali balkon sempit ini dengan kemalasanku yang tak berujung. Aku beranjak ke kamar untuk merapikan tempat tidur. Tiba-tiba aku sudah dibawah pancuran yang menyiramiku dengan hujan air artifisial yang menyegarkan badan dan mungkin jiwaku.

Setelah berpakaian sekadarnya, aku akhirnya keluar. Berjalan kaki dengan sandal jepit murah dan celana pendek bekas menuju pantai. Aku memang manusia yang beruntung. Tiba di negeri asing ini beberapa waktu yang lalu dengan serangkaian keajaiban, aku terdampar di sebuah kota kecil yang tak jauh dari laut.

Sebagai anak yang tumbuh dengan tarian di bawah matahari terbenam, aku hampir tak bisa lepas dari nyiur dan desir ombak. Aku mungkin salah satu dari mereka yang kulitnya tak pernah gelap meski terus dijemur matahari pantai. Aku sering menghabiskan berjam-jam masa remajaku dengan tiduran di atas karpet pasir putih yang luas.

Sekarang aku di belahan bumi lain. Dan dengan menjumpa biru laut, aku seperti di rumah sendiri. Aku seperti menjadi anak-anak kembali. Seperti halnya langit dan matahari, aku percaya bahwa lautan juga hanya satu di dunia. Ketiga hal itulah yang sesungguhnya menyatukan seluruh warga bumi meski lidah bergelut dengan aksen yang unik.

Kaki sudah menjejak pasir. Aku sedang menghadap lautan. Nyanyinya sungguh merdu ketika sampai di telingaku. Ia menari dengan iringan angin dan coretan jingga. Matahari ingin berpulang. Dan orang-orang ramai menantikannya di pantai damai ini. Sambil bercengkerama dengan pemikiran aku duduk lemas menghadap langit yang berubah warna.

Sunset memang selalu dinanti. Aneh sekali. Padahal ia hanya beberapa menit. Mungkin karena itu ia spesial. Kadang yang tak terlalu banyak memang lebih berkesan. Yang berlebihan seringkali jadi membosankan. Sama halnya dengan benda-benda yang kita temui tiap hari jadi biasa. Padahal mungkin mereka memesona diawalnya.

Matahari turun perlahan memberikan sepenggal waktu bagi jiwa untuk berkontemplasi. Tentang diri sendiri yang aneh, tentang dunia yang cantik karena berantakan, tentang Tuhan yang misterius itu. Aku seperti petapa yang kesepian di pantai sore itu. Duduk sendiri sambil pikiran mengelana kemana-mana.

Aku lalu tersentak oleh tabrakan seorang anak kecil yang berlari sambil menghadap belakang. Aku bangkit berdiri sambil membuka kaos murahku. Aku berlari menuju lautan yang menggelap, menuju matahari yang tinggal ujungnya. Aku bermandian bersama wangi malam yang perlahan mengusik.

Usai sudah aku membasuh tubuhku dengan garam lautan. Mandi di laut selalu punya arti sendiri. Seperti sebuah kewajiban, atau mungkin kebutuhan. Kebutuhan untuk menenggelamkan noda-noda kehidupan yang hitam dan membiarkannya terhanyut bersama samudra.

Aku kini terduduk kembali di pantai. Kini langit telah menggelap. Bulan muncul dengan senyumnya yang genit. Setelah badanku agak mengering, kakiku berjalan kembali menuju kamar. Aku banting tubuhku ke empuknya tempat tidur. Bermalasan meski ditertawai bulan perak yang kemarin aku goda dengan dialog.

Aku ganti celanaku yang basah, lalu keluar kamar mencari belaian udara malam. Aku berjalan di bawah temaram lampu jalan berbentuk daun nyiur. Kaki-kakiku memasuki sebuah kedai tua yang reyot dengan keadaan yang tak pantas disebut kedai. Tapi entah kenapa setiap memasukinya ada rasa nyaman yang tak bisa ditulis dengan kata dan aksara.

Aku duduk di salah satu meja. Memesan sepiring spaghetti dan segelas anggur lokal. Aku benamkan diri pada pemandangan di sekitar. Pria tua yang sedang menenggak bir gandum produksi Jerman. Ia sedang bercakap-cakap dengan temannya dengan bahasa Italia yang terpatah-patah.

Lalu aku melihat ke kaca yang tembus pandang. Tatapan ku kosong. Seperti ada ruang dalam diri yang mencari dan berkelana menembus waktu. Seperti sedang terbang melintasi dunia menuju masa lalu. Aku tiba di sebuah negeri tropis yang kaku. Aku lihat seorang anak kecil sedang berlarian di ujung jalan sambil memegangi mainan kayunya.

Lamunanku terbangun hentakan kecil sang pelayan. Aku menyantap makan malamku sambil meresapi kedai sunyi di kota yang mati. Setelah selesai, aku menuju meja kasir dan membayar tagihan, lalu keluar membelakangi mereka yang mengamatiku dari dalam kedai.

Aku kini di taman mengamati langit, bintang, dan bulan. Seakan dalam kesatuan dengan mereka. Aku menyalakan rokokku yang terakhir sambil diiring nyanyi sendu khas malam-malam di kota kecil. Aku coba memikirkan soal kehidupan. Akalku ingin, tapi hati dan jiwaku enggan.

Aku tak tahu berapa lama lagi akan hidup. Yang jelas selama itu aku akan tetap membuang waktu. Aku tak terlalu suka hidup dan bisa bertahan hanya karena malas memikirkan caranya menyerah. Jadi di sinilah aku dengan siang dan malamku. Aku mungkin bosan tapi belum ingin mati juga. Seperti ada sesuatu yang menunggu. Seperti ada keinginan yang ingin timbul namun takut dipukul kenyataan yang tak baik.

Di taman inilah aku sendiri hingga malam melarut bersama jiwaku yang tak peduli apa-apa. Aku yang beberapa tahun lalu datang sebagai petualang namun jatuh cinta dengan suasana kota. Hingga memutuskan tinggal bersama cinta itu seolah enggan lepas. Tapi aku punya cinta yang lain di seberang lautan. Cinta itu mungkin terbungkus rapi bersama masa lalu. Ia mungkin menungguku untuk menemukannya dan diam bersamanya.

Tapi aku belum mau pulang. Di sini hari-hari sungguh sederhana dan malam tak pura-pura. Semuanya serba apa adanya, tanpa hiasan, tanpa gincu. Aku belum mau meracuni diriku lagi dengan tipu daya dan mendandani mukaku dengan gurat wajah buatan. Aku juga belum sanggup melihat semua hal itu dalam wajah orang yang kulihat, dalam tingkah mereka, dalam bentuk kota, dalam wangi malam, dalam embun pagi.

Desir angin malam melingkari tubuhku. Langit tampak menggelap dan bulan perak itu mencolekku. Ia seperti menyuruhku bicara. Entah telah berapa cerita yang kubeberkan padanya. Malam ini aku hanya diam dan menantangnya untuk bercerita. Aku diam melihatnya, mencoba untuk mendengar suaranya. Ia diam tetap tak bersuara. Aku biarkan suasana saling diam ini.

Menjelang tengah malam aku pulang ke kamarku dengan sebuah langkah pasti di tengah ketidakpastian. Aku tak tahu apa yang pasti itu, aku tak tahu apa yang tidak pasti itu. Yang kutahu besok aku akan bangun tidur, duduk di balkon kesayanganku, membaca puisi yang bergetar, berpikir macam-macam, makan pagi dan siang, duduk depan televisi sambil mengutuk, melihat matahari tenggelam, membasahi diri dengan lautan, makan malam di kedai tua, lalu tertidur sesuka hati tanpa memasang alarm.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s