Membaca

Ada satu kutipan Pramoedya yang saya suka: “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”

Entah kenapa, menurut saya, kata-kata Pram senada dengan ucapan John Keating dalam Dead Poets Society: “We don’t read and write poetry because it’s cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for.”

Singkatnya, sastra menjadikan kita manusia. Oleh karenanya, membaca itu penting. Menulis juga. Soal membaca dan menulis, kadang saya meratapi masa SMP dan SMA yang amat jarang membaca buku, apalagi menulis. Waktu kecil dulu, saya suka baca. Setelah berhiatus pada masa remaja yang aneh itu, saya kembali doyan baca setelah masuk kuliah. Membaca adalah penjaga kewarasan saya dalam jaman dimana kegilaan adalah norma.

Soal membaca dan menulis, saya berutang banyak pada ayah saya. Dia adalah pembaca yang antusias dan penyair sambilan. Saya jadi ingat, ayah saya selalu membawa buku setiap menjemput saya saat SD dan SMP. Seringkali, sepulang sekolah, saya mendapati dirinya terduduk di suatu sudut, dengan mata menatap bukunya, sambil menunggu anak tengahnya menyelesaikan pelajaran sekolah.

Kebiasaan baca itu tak hanya saya rasakan. Teman-teman kantor ibu saya hafal benar kebiasaan itu. Jika sedang menjemput ibu dan harus menunggu, ia santai saja dan larut dalam bacaan yang dibawanya. Ia selalu kemana-mana dengan buku di genggaman. Kebiasaan itu coba saya tiru, meski seringkali gagal. Saya hampir selalu membawa buku dalam tas saat pergi kemana-mana, tapi sering buku itu tak terbuka sama sekali.

Saya juga jadi ingat cerita ayah saya ketika bertemu Andrea Hirata di bandara, beberapa tahun yang lalu, saat Laskar Pelangi baru masuk pasaran. Ia sedang membaca sambil menunggu kedatangan tante saya dari Jerman ketika melihat Andrea. Ia berbicara sejenak dengan penulis Belitong itu dan dengan bangga mengatakan, “Lihat, Bung, dari sekian banyak orang disini, cuma kita berdua yang pegang buku dan membaca.”

Dulu, cerita itu saya anggap sebagai keangkuhan yang keren. Ada semacam kebanggaan dalam nada bicara ayah saya kala itu. Di negeri dimana membaca belum menjadi kebiasaan, membaca di ruang publik memang bisa saja terasa membanggakan. Sayangnya, hal itu masih terjadi. Saya menantikan masa ketika tidak ada lagi kebanggaan saat membaca  buku di kereta, bandara, atau tempat umum lain.

Saat membaca, saya terkadang membayangkan para pengarang yang karyanya pernah saya lahap. Saya rasanya ingin menyalami mereka dan berterima kasih karena telah menulis. Tanpa mereka yang menulis, apa artinya manusia dan kehidupan dan alam semesta? Hal itu seringkali membuat saya merasa berutang. Saya merasa wajib menulis dan membagi cerita, ide, atau apalah.

Pada akhirnya, membaca dan menulis adalah sebuah rangkaian. Orang yang menulis tanpa membaca akan terlihat bodoh. Tulisannya pasti akan kering, dangkal, dan kusam karena referensi yang sedikit. Sedangkan, orang yang membaca tapi tidak menulis adalah egois dan tidak tahu berterima kasih. Membaca adalah ibadah, menulis adalah ungkapan syukur. Itu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s