Kepergian Nomor 10

Setiap kepergian selalu punya maknanya masing-masing. Dari makna itu, sikap terbentuk.

Saya ingat betul pertengahan tahun 2012 ketika Alessandro Del Piero meninggalkan Juventus. Di laga terakhirnya, pekan ke-38 Serie A melawan Atalanta, Del Piero melakukan dua putaran penuh keliling Juventus Stadium untuk mengucapkan salam perpisahan kepada seisi stadion. Syal-syal bertumpahan, air mata jatuh di pelupuk mata banyak orang. Tak terkecuali di mata Del Piero. Dan saya, yang menonton beribu kilometer jauhnya dari Turin.

Sebagai penggemar Juventus, kepergian Del Piero jelas menyesakkan dada. Del Piero adalah Juventus, Juventus adalah Del Piero. Sejak pertama kali saya menyukai sepak bola, Del Piero sudah menjadi roh Juventus. Ia tak pergi kemana-mana, termasuk ikut turun ke Serie B dalam skandal yang mencoreng nama Juventus pada 2006. Bagi seluruh, saya ulangi, seluruh Juventini di dunia, Del Piero mengandung makna yang spesial. Ia telah menyerupai keabadian.

Perginya Del Piero, saya ingat betul, sedikit dilematis bagi Juventus dan Juventini. Di satu sisi, ia memang sudah uzur dan tidak lagi menjadi bagian terpenting dari skuat yang diracik Antonio Conte. Di musim terakhirnya, Del Piero lebih sering tampil dari bangku cadangan. Beberapa bahkan menganggap kepergian Del Piero adalah langkah bagus karena Il Nostro Capitano bisa saja menghambat Conte dalam menciptakan tim yang super. Dengan segala kharismanya, bisa saja para pemain, manajemen, dan suporter akan lebih patuh pada sabda Del Piero daripada Conte. Sebagai pelatih dan motivator ulung, Conte tahu betul hal itu tidak baik. Kepergian Del Piero adalah yang terbaik bagi Juventus.

Namun di lain sisi, tak kalah banyak yang geram dan kesal dengan terusirnya Del Piero. Anggapan yang berkembang adalah Del Piero, meskipun sudah tua dan tidak seperti jaman keemasannya, masih memiliki taji yang diperlukan Juventus. Kharisma, pengalaman, dan kemampuannya dirasa masih akan berguna, walau tak harus selalu tampil sejak menit pertama dan tak lagi menjadi juru gedor nomor satu. Selain itu, melepas Del Piero diartikan sama dengan tidak menghormati sang pemain yang kadung menjadi simbol, roh, dan jiwa Juventus. Alasan non-teknis itulah yang lebih sering diapungkan. Banyak yang kecewa, termasuk saya, dengan fakta bahwa Del Piero tidak pensiun di Juventus.

Meski setuju dengan argumentasi bahwa Del Piero tak lagi terlalu terpakai di klub dan bisa merusak wibawa Conte, saya tetap tak bisa menerima kepergiannya selama sekian waktu. Butuh beberapa pekan untuk mencerna apa yang terjadi. Saya bertanya-tanya, kenapa manajemen tidak memberikan kontrak satu musim lagi kepada Del Piero? Atau, kenapa Del Piero tak langsung memutuskan gantung sepatu dengan status sebagai pemain Juventus? Tapi kita tahu, yang terjadi adalah berbeda.

Selama semusim penuh setelah Del Piero hijrah ke Australia, nomor 10 di Juventus tidak terpakai. Baru pada musim panas 2013, seorang bengal asal Argentina datang dan tanpa tedeng aling-aling meminta kaus bernomor 10. Saat itu, banyak Juventini mengamuk, meski mungkin hanya dalam hati. “Apa-apaan ini, baru datang terus minta nomor punya Del Piero,” pikir saya kala itu. Saya dan sebagian besar Juventini lain mungkin belum bisa menerima nomor 10 dikenakan pemain lain yang bukan Del Piero. Apalagi pemain bersangkutan sering dicap brengsek dan lumayan sering pindah klub, atribut yang bertolak belakang dengan Del Piero.

Nama pemain itu Carlos Tevez. Tidak ada yang meragukan kualitas olah bolanya. Pembuktian terhampar jelas lewat kiprahnya di berbagai klub sebelumnya. Saat Tevez datang ke Turin, saya sempat menyebutnya sebagai omega: akhir pencarian Juventus akan striker hebat. Maklum, bermusim-musim sebelumnya Juventus tidak punya pembunuh ulung di muka gawang lawan. Bayangkan, saat menjuarai scudetto pada musim 2012-13, top skorer Juventus adalah Arturo Vidal dan Alessandro Matri dengan 10 gol. Untuk sebuah tim juara, jumlah itu memprihatinkan. Juventus memang solid sebagai sebuah tim karena setiap pemain bisa menjadi pencetak gol. Namun, untuk ditakuti secara konsisten, tidak hanya di Italia tapi juga Eropa, Juventus harus punya penyerang tangguh. Setelah lama membidik banyak striker, pencarian berakhir dengan pembelian Tevez.

Namun yang terjadi setelahnya agak menyentak. Tevez meminta dan langsung diberikan nomor punggung 10. Secara kualitas dan nama besar, Carlitos punya hak untuk nomor itu. Tetapi bagi Juventini, itu bukan nomor yang bisa sembarangan diberi ke seseorang, karena baru setahun sebelumnya ditinggalkan Del Piero. Juventini berharap nomor itu dipakai pemain dengan kaliber yang sama dengan Del Piero, tidak hanya dalam hal olah bola, tapi juga kepribadian di luar lapangan. Tevez dianggap tidak memenuhi syarat yang disebut belakangan. Semua Juventini senang dengan datangnya Tevez, tapi hanya sebagian yang terima dia diberi nomor 10.

Tevez sudah mantap akan pilihannya. Dia sadar tanggung jawab macam apa yang mendesak di pundaknya dengan memakai seragam bernomor 10 di Juventus. Dia tak banyak bicara dan jawabannya terwujud di atas lapangan. Debutnya berakhir sempurna. Juventus menang atas Sampdoria di pekan perdana dengan gol tunggal yang dilesakkan Tevez. Di akhir musim, dia membawa Si Nyonya Tua memenangi scudetto ketiga secara beruntun dengan menyumbang 19 gol.

Pada musim keduanya, peran Tevez kian sentral. Dengan kepergian Conte dan masuknya Massimiliano Allegri, posisi Tevez tak tersentuh sedikit pun. Dialah andalan utama di lini serang. Namun, dengan tiga scudetto beruntun, ekspektasi Juventini meningkat. Gelar juara Serie A akan terasa biasa saja. Oleh karena itu, semua menuntut prestasi di kancah Liga Champions. Tevez yang pernah menggenggam trofi tersebut saat memperkuat Manchester United sangat diharapkan dalam mengangkat moril dan mental bertanding Juventus di Eropa.

Sayang, harapan menjadi juara Liga Champions kandas justru di partai final. Di Italia, Juventus memang mengawinkan Serie A dan Coppa Italia, tapi kegagalan di Eropa adalah luka tersendiri. Kendati demikian, apresiasi setinggi langit memang layak disematkan kepada Tevez dkk. Juventus membuktikan diri bisa kembali bersaing dengan tim elit Eropa lain, termasuk dengan menyingkirkan juara bertahan Real Madrid di semifinal. Tevez yang bermusim-musim lamanya mandul di Liga Champions berhasil membukukan 7 gol dalam perjalanan Juventus ke final. Total golnya 29 sepanjang musim 2014-15. Dan itulah penutup kariernya di Turin.

Pertengahan 2015 ini, Tevez memutuskan pergi. Dia hanya bertahan dua musim di Juventus. Kepergiannya disayangkan karena Tevez jelas masih dibutuhkan. Namun, berbeda dengan kepergian Del Piero yang disesalkan meski perannya kian minim, kepergian Tevez diterima sepenuhnya oleh siapa pun yang menjadi bagian Juventus. Alasan kepergian Tevez sangat personal dan emosional. Dia ingin kembali ke tempat dimana ia pertama kali mengasah kemampuan sepak bola. Ia ingin pulang ke rumah, ke Argentina, ke Boca Juniors. Perginya Tevez disambut tidak hanya dengan kesedihan, tapi juga kerelaan karena ia pulang ke rumah.

Penyair Novalis pernah berujar suatu waktu, “Sebenarnya menuju kemanakah kita? Selalu rumah.” Mungkin itu yang membuat saya dan Juventini lain menerima kepergian Tevez dengan dada yang lapang.

Arrivederci, Carlitos!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s