Diperkosa Jakarta

“Buset, rasanya gue kaya diperkosa.”

Ucapan itu meluncur dari bibir seorang gadis di kereta Manggarai-Duri tadi pagi. Sepanjang Manggarai-Sudirman, kereta bagaikan kaleng sarden yang diombang-ambing. Daging-daging manusia menempel, berhimpit. Tak ada spasi, hanya sedikit celah untuk mengambil udara. Mustahil untuk bergerak, bahkan sekadar menengadah atau merubah posisi tangan.

Di Jakarta, tiap hari, bagi para komuter dan mereka yang tidak berjalan kaki ke kantor atau sekolah, rasanya mungkin memang seperti diperkosa. Walaupun saya tak tahu persis apakah mbak-mbak tadi pernah benar-benar diperkosa.

Sejak enam tahun lalu saya belum mengubah argumen saya. Kemacetan Jakarta yang parah adalah akibat terlalu banyaknya manusia. Tanpa pemindahan atau pembasmian manusia, mustahil untuk mengentaskan kemacetan. Sistem transportasi canggih, sihir Deddy Corbuzier, atau petuah Mario Teguh tak akan mampu menghabisi macet di ibu kota. Ketika saya bicara macet, saya tak hanya mengacu pada jalanan dimana mobil motor merayap, tapi juga di dalam kereta yang penuh, sesak, dan tak manusiawi.

Saya jadi ingin merasakan menjadi pegawai 9-5 di kawasan-kawasan perkantoran padat seperti Sudirman atau Kuningan. Saya membayangkan bangun pukul 5 atau 6, jam 7 sudah di stasiun atau mulai mengendari motor, jam 8 terjebak di jalan atau gerbong, jam 9 lewat sampai kantor dengan raut muka kesal karena terlambat dan kuyup karena keringat mengucur. Entah karena terik atau kegerahan. Mereka, mengutip teriakan seorang bapak di kereta tadi pagi, adalah luar biasa.

Eh tapi itu dulu. Memang dulu saya mengira mereka, para komuter dan orang kantoran Sudirman/Kuningan itu, adalah orang-orang hebat, tangguh, dan perkasa. Tapi makin kesini saya makin ragu. Mungkin jarak antara hebat dan bodoh kian tipis. Atau, jika bukan bodoh, mungkin pengecut, karena tidak berani keluar dari rutinitas yang mereka kutuk tiap hari.

Namun itulah Jakarta. Setidaknya bagi saya, Jakarta membuat pikiran saya menyala-nyala. Puisi, kritik, ide bisa lahir dalam sesak gerbong kereta di ibu kota tercinta. Meski dengan sumbang, gelap, dan pahit, setidaknya kita harus jujur pada diri sendiri tentang kenyataan bahwa: Jakarta adalah neraka jahanam. Dan neraka berarti ketiadaan.

Advertisements

One thought on “Diperkosa Jakarta

  1. […] Eh tapi itu dulu. Memang dulu saya mengira mereka, para komuter dan orang kantoran Sudirman/Kuningan itu, adalah orang-orang hebat, tangguh, dan perkasa. Tapi makin kesini saya makin ragu. Mungkin jarak antara hebat dan bodoh kian tipis. Atau, jika bukan bodoh, mungkin pengecut, karena tidak berani keluar dari rutinitas yang mereka kutuk tiap hari. (baca di: baca selengkapnya ) […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s