Puitisasi Kegagalan

Puitisasi terhadap kegagalan adalah tindakan pengecut. Apalagi jika sudah membawa-bawa ayat kitab suci dan nasihat-nasihat kuno. Meskipun mungkin benar, “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda” harusnya dimatikan dalam narasi hari ini.

Apologi dan pembenaran terhadap kegagalan dengan memakai kata-kata yang puitik dan kutipan tokoh-tokoh terkenal justru melipatgandakan segalanya. Anda tak hanya sekadar gagal, tapi juga sukses menjadi pecundang tulen. Menyedihkan.

Butuh keberanian untuk bilang: saya gagal (tanpa ‘tapi’, ‘gara-gara’, ‘padahal’, dan sebagainya). Dan keberanian itu tak bisa didapat cuma-cuma. Butuh waktu, pengalaman, dan kesadaran untuk mencerna, terlebih mengamalkan dalam realitas.

Pepesan kosong ala motivator juga perlu dibuang ke tempat sampah. Tak perlulah babibubebo ala Mario Teguh. Gagal ya gagal. Menerima dan mengakui kegagalan dengan apa adanya akan terasa lebih baik. Sekali lagi tanpa embel-embel apa pun.

Juga soal mengganti adjektif ‘gagal’ dengan ‘belum berhasil’. Itu mengelak terhadap kenyataan. Sekali dua kali kita bisa mengelabui kebenaran. Tapi kita patut mengingat Siddharta: hanya matahari, bulan, dan kebenaran yang takkan sembunyi selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s