Bahagia?

Konon, kebahagiaan adalah pintu yang kuncinya kita lupa taruh dimana. Sebagian, dengan agak Buddhis, menganggap kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan ke ujung-ujung dunia, padahal ia berdiri tepat di samping kita. Kebahagiaan begitu misterius, dekat, komikal. Kita tak pernah tahu persis apa itu meski sudah mendengarnya sejak kecil.

Segala definisi, abstraksi, konseptualisasi, dan filosofi tentang kebahagiaan nyatanya tak terlalu berarti. Tanpa kenyataan, segalanya bukan apa-apa. Menjadi bahagia adalah hak asasi paling asasi bagi umat manusia. Sepelik atau sesederhana apapun itu, pencarian akan kebahagiaan seharusnya ada di nomor teratas bucket list tiap umat.

Seperti apa dan melalui apa kebahagiaan dibayangkan, diwujudkan, atau diada-adakan adalah hak tiap individu. Entah uang, keluarga, pengalaman, perempuan, laki-laki, sepak bola, barang, perjalanan, pemikiran, perasaan, pekerjaan, idealisme, pragmatisme, atau apa pun. Bahagiaku dan bahagiamu tak pernah sama. Ia selalu autentik dan personal.

Meski kita dengar dari sebuah film bahwa “happiness is only real only shared”, itu lain soal. Kita berhak dan bebas membagi kebahagiaan ke seluruh dunia. Tapi kebahagiaan, sama seperti nasib, selalu sunyi. Karenanya, kebahagiaan komunal adalah oksimoron. Satu Indonesia bahagia jika kita masuk Piala Dunia, tapi sekali lagi, tak ada yang benar-benar serupa.

Tapi, lupakanlah!

Soal kebahagiaan, penjelasan seperti di atas tak penting.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s