Mengingat Roda Antar

Alkisah saya sedang berada di suatu kota bernama Kefamenanu, kota yang berjarak 2 jam dari Atambua yang merupakan batas wilayah Indonesia dan Timor Leste. Sudah 23 hari saya keluar rumah dan melakukan perjalanan. Sudah 23 hari pula saya tak pernah menonton sepakbola. Maka ketika di suatu sore yang gerimis siaran televisi menyiarkan pertandingan liga di Indonesia, saya tak ubahnya seorang pecinta yang mendapati apa yang dirindukannya.

Saat itu saya tak peduli tim manapun yang bertanding. Saya tak peduli. Yang terpenting adalah itu pertandingan sepakbola. Itu sudah cukup. Tak masalah jika yang bertanding adalah Persita Tangerang versus Persiba Balikpapan. Partai yang saya kira jika sedang berada di rumah belum tentu saya tonton. Pertandingan itu sendiri berakhir dengan kemenangan 3-1 Persita atas musuh dari Borneo itu.

Namun sejatinya bukan pertandingan itu yang menarik untuk saya. Adalah seorang pemain asing Persiba bernama Mahmoud El Ali yang membuat saya termangu. Bukan karena paras atau cara main bolanya, tapi karena asal negaranya. Saat ditarik keluar dan digantikan entah oleh siapa, komentator memberikan informasi bahwa El Ali merupakan pemain asal Lebanon. Sontak saya teringat pada satu sosok.

Sampai detik ini satu-satunya pebola Lebanon yang terasa akrab di telinga adalah Roda Antar. Dalam negeri yang mungkin tergolong antah-berantah di jagad sepakbola itu, Antar mencuri sensasi tatkala berkarir di Bundesliga Jerman. Ia memang tak menjadi legenda disana, tak pula pernah menjuarai liga. Tapi saya yakin seratus persen, bagi rakyat Lebanon, Antar adalah dewa.

Antar memulai karirnya bersama klub asal negerinya, Tadamon Sour. Klub Lebanon ini merupakan salah satu klub yang sempat dibela Mohamed Kallon, mantan penyerang Inter Milan asal Sierra Leone, tanah kelahiran Antar. Bersama Tadamon Sour, Antar menjalani debut sebagai pemain pro di musim 1998-99. Saat itu ia masih remaja tanggung berumur 17 tahun.

Tiga tahun berlalu hingga kalender menunjuk ke Juli 2001. Tak ada yang menyangka di usia yang baru menginjak 20 tahun, karir pemain yang biasa beroperasi di lapangan tengah itu terbentang hingga ke tanah Jerman. Atas saran pelatih tim nasional Lebanon kala itu (yang kini kembali menjadi pelatih timnas Lebanon), Theo Bucker, Antar hijrah ke kota bernama Hamburg untuk bermain bagi klub lokal Hamburger SV. Disana ia bermain sebagai pinjaman hingga tahun 2003. Selama di Hamburg, Antar mencatat 23 caps dan menoreh 2 gol. Ia pun sempat bermain di tim reserve Hamburg yang berlaga di kompetisi kasta bawah.

Setelah Hamburg, rupanya peruntungan Antar di Jerman belum habis. Adalah mantan klub Papiss Demba Cisse, SC Freiburg yang kemudian merekrut Antar untuk meneruskan karir Bundesliga-nya. Antar dipilih langsung oleh Volker Finke, pelatih terlama yang pernah mengangani sebuah klub dalam sejarah sepakbola Jerman, yang menangani Freiburg dari tahun 1991 hingga 2007. Menariknya, musim terakhir Finke di Freiburg pun musim yang sama saat Antar akhirnya memutuskan pindah klub.

Bersama Freiburg, ia memainkan 98 partai dan mencetak 26 gol. Partai paling diingatnya bersama klub yang pernah dibela Joachim Low itu adalah partai debutnya. Dibeli awal musim 2003-04, Antar baru memainkan partai pertamanya untuk Freiburg di awal Desember 2003 karena cedera serius yang menimpanya. Kerennya saat diberi kepercayaan menjalani debut, Antar langsung menoreh gol. Tak hanya satu atau dua gol, tapi hattrick. Partai melawan Bochum yang berkesudahan 4-2 itu pun menjadi landmark karir Antar di Freiburg. Setelah keajaiban itu, fans Freiburg lantas memberi julukan fenomenal bagi pemain asal negeri-entah-dimana itu, The Football God.

Musim 2006-07 jadi musim terakhirnya di Freiburg yang saat itu sudah terjerembab ke Bundesliga 2. Antar lalu ditransfer ke sesama klub Bundesliga 2, FC Koln. Bersama eks klub Lukas Podolski, Antar meraih tiket promosi kembali ke Bundesliga 1 setahun setelahnya. Sayang saat kembali mengarungi persaingan level teratas Jerman, Antar justru terlibat perselisihan dengan jajaran manajemen klub. Maret 2009 pun ia dilego ke benua seberang, menuju Cina dan bermain di Shandong Luneng hingga saat ini.

Di usia 32 tahun, Antar mungkin belum tentu akan kembali bermain di Eropa. Karirnya di Jerman terhitung tak lama-lama amat, hanya 8 tahun. Namun selama itu rupanya telah cukup baginya untuk mematri namanya dalam ingatan para pecinta sepakbola Jerman dan dunia bahwa di sebuah negeri yang terlupakan bernama Lebanon terdapat talenta yang sanggup memainkan bola di kakinya dengan brilian.

Kini selain fokus bersama Shandong, Antar juga tengah disibukkan dengan mimpi untuk mengantar negaranya Lebanon ke Piala Dunia 2014. Negara berbendara pohon cemara itu berada satu grup dengan Uzbekistan, Korea Selatan, Iran, dan Qatar untuk memperebutkan 2 tiket lolos langsung ke Brazil. Meski saat ini berada di posisi terbawah, peluang Antar dkk belum habis. Sebagai kapten timnas Lebanon, Antar jelas ingin menutup karir sepakbolanya dengan indah: bermain di Piala Dunia bersama negaranya. Jika itu terjadi, namanya dipastikan abadi di Lebanon.

(Februari 2013)

NB: Pernah tayang di Define Football. Ditampilkan kembali dengan tujuan merawat informasi yang siapa tahu berguna bagi seseorang di luar sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s