Film Tourism

Suatu siang saya sedang membaca artikel-artikel berita di internet saat menemukan teks menarik di CNN Indonesia yang diberi judul ‘Film Oscar 2015 yang Bikin Naluri Wisata Makin Menggebu’. Artikel ini membuat saya lantas teringat dengan konsep film tourism yang beberapa kali saya temukan dan baca di jurnal-jurnal internasional.

Jaman sekarang, kaitan pariwisata dan film memang kian erat. Di Indonesia, ketika kita menyebut Laskar Pelangi pasti akan teringat Belitung, begitu pula sebaliknya. Tetralogi Laskar Pelangi memang menjadi contoh sukses bagaimana cerita buku dan film dapat mendorong gairah pariwisata di daerah. Entah berapa ribu atau juta orang yang mengunjungi Belitung karena terinspirasi dengan kisah Andrea Hirata itu.

Dalam masyarakat massa dimana media, termasuk film, adalah institusi yang menentukan nilai, norma, perilaku (mulai dari cara makan sampai cara menghabiskan waktu luang), film tourism mendapatkan panggungnya. Citra dan representasi yang timbul dalam film, terlebih ketika anda menyukai film itu, bisa menjadi stimuli untuk melakukan sesuatu, termasuk berpergian ke tempat-tempat yang ada dalam film.

Irena Ateljevic, dalam studinya tentang motivasi turis mengunjungi Selandia Baru, mengemukakan bahwa media, bersama latar belakang pendidikan, dapat menentukan citra sebuah destinasi bagi seseorang. Film sebagai salah satu produk media yang paling populer memegang peranan penting, terlebih dalam jaman dimana citra visual adalah segalanya.

Dalam kasus Selandia Baru, kita pasti akan teringat film The Lord of The Rings. Film itu menjadi media promosi nomor satu bagi pariwisata Selandia Baru. Saya pernah lihat iklan maskapai Selandia Baru yang memakai gimmick-gimmick khas The Lord of The Rings. Selain itu, tur wisata yang bertema film tersebut juga menjadi salah satu produk pariwisata yang laris di negeri sebelah timur Australia itu.

Meski tak disadari, pengaruh film dalam menentukan minat wisata seseorang cukup besar. Saya tak luput dari pengauh itu. Beberapa film dan serial televisi membuat saya bercita-cita ingin menyambangi suatu tempat. Sebut saja Alaska (Into The Wild) dan Albuquerque (Breaking Bad). Itu baru yang saya ingat dan hanya film. Pengaruh dari buku bagi saya lebih kuat.

Selain dua di atas, belakangan ini saya juga terpikat New Orleans. Tak lain dan tak bukan gara-gara serial NCIS: New Orleans. Sebelumnya saya sudah mendengar bahwa New Orleans adalah kota yang nyentrik. Namun, tak ada gairah mengunjunginya sebelum saya menonton NCIS. Melalui akting aktor-aktor dan skenario ceritanya, New Orleans digambarkan sebagai kota yang santai dan ekstentrik, sekaligus mendukung kutipan di iklan serial itu ‘New Orleans: the most unique city in U.S’.

Di Indonesia beberapa tahun belakangan, saya melihat ada keinginan untuk mendorong minat wisata ke suatu destinasi dengan menggunakan film sebagai jurus. Beberapa film (tampaknya) sengaja diciptakan untuk mempromosikan suatu daerah, yaitu dengan menampilkan panorama-panorama cantik yang menggugah gairah para pejalan. Tapi tampaknya tidak ada yang menyamai kisah sukses Laskar Pelangi dan Belitung.

Kenapa? Karena sebagian film-film itu hanya menjual gambar pemandangan yang indah. Mereka lupa bahwa sebuah film yang baik harus memiliki cerita, karakter, dan alur yang baik pula. Orang-orang ingin mengunjungi Belitung bukan hanya karena pulau itu digambarkan sangat cantik pada Laskar Pelangi, tapi juga karena kisah dan karakter-karakter di Laskar Pelangi begitu kuat dan melekat pada para penonton. Tanpa itu, jualan pariwisata lewat film hanyalah buang-buang duit.

Sah-sah saja memang upaya memasarkan pariwisata lewat film. Tapi terlalu fokus pada urusan uang adalah sebuah dosa besar khas industri. Saya yakin film-film yang telah menjadi ikon suatu daerah diciptakan bukan sebagai alat industri pariwisata dalam mendatangkan turis, tapi benar-benar sebagai sebuah kesenian visual (terlepas dari kesenian itu juga dihasilkan industri bernama Hollywood). Di situ ada proses berkesenian dan apresiasi dari penikmatnya.

Apresiasi itulah yang lantas menjadi stimuli bagi orang-orang untuk berkunjung. Proses ini harus dihormati. Film tourism adalah hasil yang didapat ketika seni dan apresiasi terhadap seni itu telah ada. Apa yang dilakukan film-film Indonesia belakangan ini seakan mengerdilkan proses seni dan apresiasi tadi, dan terlalu berkonsentrasi pada upaya promosi yang dangkal dan banal.

Tur-tur bertema The Walking Dead di Atlanta dan Breaking Bad di New Mexico, bukanlah sesuatu yang direncanakan. Dua serial itu diciptakan bukan oleh korporasi atau lembaga yang mengurusi pariwisata. Saya yakin itu. Ia adalah efek positif ketika sebuah karya dihargai oleh penikmatnya, baik dari segi cerita maupun karakter tokoh-tokohnya yang terus terngiang di kepala para penontonnya.

Lalu bagaimana dengan potensi film tourism di Indonesia? Yang jelas sebelum menggencarkan hal itu, industri film harus dibenahi dulu. Sampah-sampah jangan dihasilkan lagi. Sambil menunggu itu, lebih baik negara dan pelaku industri bergotong-royong membenahi infrastruktur yang payah di berbagai destinasi wisata. Percuma jualan panorama Pulau Sumba kalau akses jalan-jalan di sana masih payah. Meh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s